Jumat, 07 Juni 2019

Puisi

T-zee
06-06-19

Aku ingin

Aku ingin...
Mengajakmu mencintai taman
Memetik bunga waktu
Yg tertanam masa lalu
Menyemai tunas harapan
Lalu tumbuh subur
Mengikuti pertumbuhan
Pertamanan prasaan

Aku ingin...
Mengajakmu mewadahi
Kata-kata yg mengaduh
Jatuh
Bersama awan
Juga menjemput kupu-kupu tuhan
Pada setangkai bunga
Tanpa kepedihan

Aku ingin...
Merebahkan raga
Dipelukan
Seusai mencari hati
Berbuah rasa yg pasti
Lalu mengutip kicauan burung awan
Tanda akan ketenangan

Aku ingin...
Menjadi pesan cinta tuhan
Menulis puisi-puisi kecil
Menjelang magrib
Lalu,
Meminum segelas teh
Yg dibuat
Aku harap
Itu hangat yg kau buat
Diakhir waktu matahari
Akan terlelap

Aku ingin...
Mendekapmu dengan erat
Spt aku mendekap al-quran
Dengan kuat
Tapi,
Ada suatu ikat
Yg tak bisa ku ubah
Apalagi ku perbuat
Sayang...

Aku hanya ingin...
Butuh keajaiban...
Perjalanan

Senin, 03 Juni 2019

Puisi malam minggu

Merenung seperti gunung
Mengurai janji diatas gurun
Jejak-jejak yg tertinggal, diterpa angin kan hilang
Tp akan kukenang.

Janji-janji ku telan
Bak vitamin C aku kecanduan.
Tp kelama-lamaan, baru kurasa
Bahwa ia tak sehat dan  menyakitkan.

Janjimu kau ingkari
Mulut harimaumu menerkam mangsa lagi
Puas!
Saya kira kau belum puas.
Racun yg kau beri belum terasa dalam tubuh yg baru lagi.

Kusakit akibat racunmu
Kuminum penawar racun
Hilang sudah!
tp tetap terbayang racunnya.

Huah! 
Aku benci, alasanmu dulu
Saat mau pergi.
Tp hei lihat!
Sekarang kau meminum racunmu sendiri
Huhuhuhu...
Tinggal menunggu waktu saja
Kau kan terasa tersakiti.

Happy satnight

Sabtu, 13 April 2019

makalah Sejarah Pembukuan Al-quran : Masa Ustman bin Affan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
         Selama pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai’at yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga, umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi Muhammad SAW, di luar kemestian,telan mengajar mereka membaca Al-Quran dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibatnya, adanya kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat dalam dan bacaan/qiroat.
         Lalu perlu diketahui bahwa tulisan Al-Quran sekarang ini, dalam mushaf yang kita miliki, telah melalui banyak perkembangan seiring dengan waktu dan zaman. Mulai dari bentuk tulisan, keindahan tulisan/kaligrafi, hingga pencetakan Al-Quran.

2.1  Rumusan Masalah
1.      Apa yang menyebabkan Utsman bin Affan membukukan Al-quran ?
2.      Apa cirri-ciri dan keistimewaan dari Mushaf Utsmani?
3.      Bagaimana perkembangan Mushaf Utsmani setelah masa Khalifah Utsman bin Affan sampai sakarang ?

3.1  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui penyebab khalifah Utsman bin affan membukukan Al-Quran.
2.      Untuk mengetahui cirri-ciri dan keistimewaan dari Mushaf Utsmani.
3.      Untuk mengetahui perkembangan Mushaf Utsmani setelah masa Kekhalifahan Utsman bin Affan.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Penyebab Utsman Membukukan Al-Quran
A.       Latar Belakang Pembukuan Al-Quran
Keputusan utsman bin affan untuk menghimpun atau membukukan Al-Quran menjadi mushaf utsmani, adalah karena ada sahabat yang mengatakan, bahwa telah terjadi perselisihan bacaan antara umat muslim. Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas:
“bahwasannya Hudzaifah, setelah memerangi penduduk Syam dalam peperangan mengalahkan Armenia dan Azerbaijan, bersama dengan penduduk Irak, Hudzaifah melihat hebatnya perselisihan antara mereka itu dalam soal qiroat Al-Quran.[1] Penduduk Syam membaca menurut qiraat Ubai ibnu Ka’ab, sedangkan penduduk Irak membaca menurut qira’at Abdullah ibnu Mas’ud. Masing-masing golongan menyalahkan qiraat yang lain.”
            Hudzaifah khawatir hal itu akan menimbulkan hal-ha yang tidak baik kalau tidak segera dihilangkan perselisihan-perselisihan itu.[2]
Karenanya, Utsman memanggil tokoh-tokoh sahabat dan menyuruh mereka menulis sebuah naskah yang menjad pegangan bagi seluruh rakya (muslim). Naskah itu disebut Al Imam.

B.     Pelantikan Sebuah Panitia yang Terdiri dari Dua Belas Orang
  Diriwayatkan dari Ibn Sirin (w. 110) :
“Ketika Utsman memutuskan untuk menyatukan al-Quran, dia mengumpulkan panitia yang terdiri dari dua belas orang, dari kedua-dua suku Quraisy dan Anshar. Diantara mereka adalah Ubay bin Ka’ab (Quraisy)  dan Zaid bin Tsabit (Anshar).”
Identitas ke dua belas orang tersebut diketahui melalui berbagai sumber:
Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan kepada:
1)      Sa’id bin al As untuk dibaca ulang, dia menambahkan pula
2)      Nafi bin Zubair bin Amr bin Naufal (al-Muarrij as-Sadusi, Kitab Hadzfin min Nasb Quraisy, hlm. 35,42)
3)      Zaid bin Tsabit
4)      Ubay bin Ka’ab
5)      Abdullah bin az-Zubair
6)      Abrur-Rahman  bin Hisyam
7)      Kathir bin Alfah (Ibn Abi Dawud, al masahif, hlm. 20,25-26)
8)      Anas bin Malik
9)      Abdullah bin Abbas
10)  Malik bin Abi Amir (Ibn Hajar, Fathur Bari’, ix: 19)
11)  Abdullah bin Umar
12)  Abdullah bin Amr bin al-ash (al-Baqillaini, al-Intisar/ringkasan, hlm. 358)

C.     Utsman Menyiapkan Mushaf Langsung dari Suhuf
  Terdapat dua riwayat tentang bagaimana usman melakukan tugas ini (menghimpun dan membukukan Al-Quran). Satu diantaranya, yang lebih masyhur adalah beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Khafsah, istri Nabi Muhammad SAW dan merupakan putri dari Sahabat Umar bin Khattab.
  Riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, Utsman terlebih dahulu memberi wewenang pengumpulan mushaf dengan menggunakan sumber utama, sebelum membandingkan nya dengan suhuf yang sudah ada. Kedua versi riwayat se paham bahwa suhuf yang ada pada Khafsah memainkan peranan penting dalam pembuatan mushaf utsmani.
a)      Berdasarkan pada riwayat pertama Usman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melacak suhuf dari Khafsah. Mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak naskah. Al Bara; meriwayatkan:
Kemudian Usman mengirim surat kepada Khafsah, yang menyatakan “Kirimkanlah suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian suhuf akan kami kembalikan kepada anda” Khafsa lalu mengirimkan nya kepada Usman, yang memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin az-Zubair, S’aid bin al-As, dan ‘Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitau kepada ketiga orang Quraisy “Kalau kalian tidak setuju denganZaid bin Tsabit perihal apa saja mengenai Al-Quran, tulislah dalam dialek Quraisy, sebagaimana Al-Quran telah diturunkan dalam logat mereka.” Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah, Utsman mengembalikan Suhuf itu kepada Khafsah….[3]

b)      Dan ada juga seorang sahabat yang meminta kepada Ali bin Abi Tholib,  mushaf yang ia miliki untuk mencocokkan dan menjadi referensi bagi mushaf yang akan ditulis ulang ini. Thalhah bin Abdullah berkata kepada amirul mukminin Ali bin Abi Tholib “Masih ingatkah anda ketika menyodorkan mushaf kepada orang-orang dan mereka menolaknya? Sekarang dimana mushaf itu? tunjukkanlah mushaf itu, siapa tahu mushaf itu bisa menghilangkan perbedaan yang terjadi!”
Ali bin Abi Tholib tidak menjawabnya ,Thalhah mengulangi pertanyaannya.
Ali berkata “aku sengaja tidak menjawabnya”, setelah itu beliau berkata “apakah Al-Quran yang sekarang ada di tangan orang-orang ini (muslim) semuanya Al-Quran atau di dalamnya juga tercampur dengan selain Al-Quran?
Thalhah berkata “Tentu saja semuanya adalah Al-Quran
Ali bin Abi Thalib berkata “Jika memang demikian, maka apapun yang kalian ambil dan amalkan niscaya kalian akan mencapai kebahagiaan
Thalhah berkata “Kalau begitu Al-Quran (yang ada di tangan orang-orang) ini cukup bagi kami
      Setelah itu ia tidak berkata apa-apa lagi. Dengan jawaban tersebut Ali bin abi Thalib ingin menjaga persatuan dan keotentikan Al-Quran juga tetap terjaga.

c)      Ada sebuah riwayat yang dianggap lemah oleh ahli Hadits, yang menerangkan tentang pengambilan suhuf yang ada dibawah pengawasan atau penjagaan Aisyah. Umar bin Shabba, meriwayatkan dari Harun bin Umar :
“Ketika Utsman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta Aisyah agar mengirimkan kepadanya kertas kulit (suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad Saw. Yang disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Tsabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibukl dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesame mereka.”(Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm.997)

D.    Pendistribusian Mushaf Utsman
            Kemudian Usman bin Affan meminta Zaid binT Tabit, Abdullah ibnu Zubair, Zaid bin Ash dan Abdurrahman ibnu Harits , untuk menyalin al-Quran yang telah diminta Usman menjadi beberapa mushaf atau pengkopian mushaf untuk disebarkan ke negeri-negeri.
            Sesudah sempurna disalin, maka naskah-naskah mushaf itu disebarkan ke tiap-tiap kota besar, seperti Makkah, Damsyik, Yaman, Bahrein dan Kuffah. Qiroat yang dipilih dalam mushaf utsmani adalah qiroat Quraish karena alquran diturunkan melalui lisan quraish yaitu nabi muhammad saw yang berasal dari suku quraisy.[4]
            Ada juga yang menyebutkan bahwa al-Quran di sebarkan juga ke Basrah, Suriah, dan Madinah.[5]
            Segala naskah yang tidak resmi, dibakar semua. Terkecuali naskah asal yang ditinggalkan di tangan Khafsah.
            Mus’ab bin Sa’d menyatakan bahwa masyarakat dapat menerima keputusan Utsman; setidaknya tidak terdengar kata-kata keberatan. Riwayat lain mengukuhkan riwayat ini, termasuk Ali bin Abi Thalib berkata :
“Demi Allah, dia tidak melakuklan apa-apa dengan pecahan-pecahan (mushaf) kecuali dengan persetujuan kami (tidak ada seorangpun di antara kamu yang membantah).”
            Naskah peninggalan Abu Bakar, tinggal di tangan Khafsah sampai wafatnya pada tahun 45 hijriyah, kemudian naskah itu disimpan oleh Abdullah ibnu Umar. Di  waktu Marwan menjadi Gubernur Madinah naskah itu pun diminta nya dan dibakar nya (al kirmani ix : 13)
            Karena Naskah Utsmani yang terdahulu hanya terdapat huruf-huruf konsonan, tidak ada titik maupun harakat, maka dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam membacanya. Maka Utsman bin Affan mengirimkan al-Quran ke berbagai negri, lengkap beserta pembacanya. Yang nanti akan mengajarkan bacaan Mushaf Utsman kepada penduduk kota/negri tujuan. Seperti Zaid bin Tsabit ke Madinah, Abdullah bin as-Sa’ib ke Makkah, al-Mughairah bin Shihab ke Suriah, Amir bin ‘Abd Qais ke BAsrah dan Abu Abdur-Rahman as-Sulami ke Kuffah.
2.2  Ciri-Ciri dan keistimewaan Mushaf Utsman
v  Mushaf Usmani memiliki beberapa keistimewaan, yakni:
·         Hanya memuat yang mutawatir, bukan yang ahad
·         Mengabaikan yang dinasakh bacaannya dan yang telah tidak ada pada pemaparan bacaan yang terakhir
·         Ada urutan ayat dan surat
·         Penulisannya menggunakan cara-cara yang mencangkup wajah-wajah dialek (qiro’at)  yang beragam, juga huruf-huruf terdiri atas huruf saat Al-Qur’an diturunkan
·         Terhindar dari segala sesuatu yang tidak termasuk Al-Qur’an


v  Karakteristik Khusus Alqur'an Mushaf Utsmani:
          Mushaf Utsmani dengan 10 Karakter Khusus:
1)Terdiri dari 485 halaman. Di mulai dari halaman 2. Halaman 1 adalah halaman Judul.
2)      Setiap halaman berisi 18 baris, kecuali halaman 2, 3 dan 485. Halaman 2 dan 3 masing-masing berisi 18 baris. Halaman 485 berisi 15 baris ditambah 'ruang kosong' yang setara dengan 3 baris.
3)      Halaman 2 dan 3 tercetak secara khas berbeda dengan halaman-halaman lainnya, Halaman 2 berisi seluruh ayat QS 1 (Al Faatihah), Halaman 3 berisi QS 2 (Al Baqarah) 1-4
4)      Setiap ayat selesai ditulis di dalam sebuah halaman, kecuali ayat keempat dari surat Al Lahab, yang d tulis berawal d halaman 484 dan berakhir d halaman 485.
5)      Ada 2 halaman yang masing-masing penuh di isi oleh sebuah surat, yaitu: Halaman 2 yang berisi seluruh ayat QS 1 (al Faatihah), Halaman 475 yang berisi seluruh aya QS 89 (Al Fajr)
6)      Enam buah surat di dalam juz 30 di tempatkan secara khas dengan bertepat sejajar baris d halaman 482-483, yaitu surat-surat nomor 102-107 (At Takaatsur - Al Maa'uun).
7)      Muqaddimah surat menempati 2 baris, kecuali tiga buah surat yang masing-masing muqaddimahnya  hanya menempati satu baris, yaitu: QS 9 (At Taubah), QS 15 (Al Hijr), QS 27 (An Naml)
8)      Setiap Juz berisi 16 halaman, kecuali jz 1 berisi 15 halaman dan juz 30 berisi  21 halaman.
9)      Awal Juz ditandai oleh huruf-huruf yang bercetak tebal.
10)  Tanda ruku' berupa huruf 'ain tercantum d tempat ruku' berakhir. Di tepi halaman ruku' persis berakhir, di cantumkan pula notasi tanda ruku' tersebut dengan ukuran yang diperbesar. Pada pembesaran tanda ruku' dicantumkan angka-angka yang menunjukkan tentang:
v  Urutan ruku' di dalam surat
v  Jumlah ayat yang terkandung dalam ruku'
v  Urutan ruku' di dalam juz.

v  Yang membedakan antara kedua jenis pengimpunan Abu bakar dan Utsman adalah:
a)      Tujuan penghimpunan pada masa Abu Bakar merangkul seluruh Al Qur’an dalam satu mushaf agar tidak ada yang hilang sedikitpun, tapi tidak mengharuskan umat Islam atas satu mushaf, karena belum tampak pengaruh perbedaan qiro-at yang bisa menimbulkan perpecahan.
b)      Sementara tujuan penghimpunan Al Qur’an pada masa Utsman adalah menyatukan Al Qur’an seluruhnya pada satu mushaf, melihat kekhawatiran pertentangan qiro-at di kalangan umat Islam yang bisa memecah-belah mereka.
Dengan upaya Utsman bin Affan ini, tampak kemaslahatan umum kaum muslimin lebih terealisir ketika mereka dapat bersatu di bawah satu kalimat, dan perpecahan serta permusuhan dapat dielakkan.


2.3  Perkembangan Mushaf Usmani Sampai Sekarang
v  Pemberian Titik dan Harakat
Setelah masa Khalifah pemeliharaan Al-Qur’an terus disempurnakan dengan memberi  syakal dan titik. Karena keadaan dan model Mushaf Usmani saat itu masih dalam keadaan tidak bersyakal dan tidak bertitik, yang dapat memungkinkan terjadinya perbedaan macam bacaan. Sehingga pada masa Abdul Malik (65 H) mulai memikirkan untuk membuat tanda-tanda yang dapat membantu bacaan dengan baik dangan benar.
Perbaikan penulisan ini tidak terjadi sekaligus tetapi secara berangsur-angsur dan dari generasi ke generasi dan mencapai puncaknya pada akhir abad ke 3 H. Abul Aswad al-Duali, Yahya bin Ya’mar dan Nasr bin Ashim al Laitsi merupakan tokoh yang terkenal sebagai orang yang pertama menggunakan titik dalam penulisan Al-Qur’an.

1.      Abul Aswad terkenal sebagai orang yang pertama meletakkan kaidah bahasa Arab atas perintah Ali bin Abi Thalib dan juga membuat tanda  baca titik, karena Ia sendiri pernah mendengar orang salah membaca ayat Al-Qur’an.
2.      Abu Abdurrahman seorang sastrawan dan pakar bahasa Arab menyusun titik-titik yang kemudian digambar untuk menghias buku, dan membuat tanda baca hamzah, tsyadid, raum, dan isyam ( isyarat bunyi suara harakat dengan merapatkan bibir). Dan puncak kesempurnaan itu ditandai dengan upaya Abu Hatim Sajistani yang menulis buku tentang tanda baca titik dan syakal.
Dalam upaya penyempurnaan penulisan Al-Qur’an untuk memudahkan membaca (‘tajdid dan ‘bid’ah hasanah) terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada yang mengatakan bahwa upaya ‘tajdid merupakan bid’ah yang menyesatkan. Tetapi Imam Malik menyatakan bahwa peletakan tanda baca tidak berlawanan dengan prinsip kemurnian Al-Qur’an. al-Nawawi menegaskan penulisan mushaf dengan menambahkan titik dan syakal akan mencegah terjadinya salah baca dan pengubahan al-Qur’an.
Pada tahap selanjutnya tejadi penambahan disana sini, yaitu  penulisan tanda pada tiap kepala surat, peletakan tanda yang memisahkan ayat, pembagian al-Qur’an  menjadi juz, lalu dibagi lagi menjadi ahzab (kelompok ayat) lalu dibagi lagi menjadi arba’ (penempatan) semua ditandai dengan isyarat khusus.

v  Pencetakan Mushaf
Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Qur’an disalin dan diperbanyak dari Mushaf Utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M.
Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur’an untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.
ü  Mushaf Al Qur’an yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat Islam sendiri adalah mushaf edisi Maulaya Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.
ü  Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun 1828
ü  Persia Iran tahun 1838
ü  Dan Istanbu (turkey)l tahun 1877.
Mulai Abad ke-20, pencetakan Al Qur’an dilakukan umat Islam sendiri. Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak.
Cetakan Al Qur’an yang banyak dipergunakan di dunia Islam adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Qur’an dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.
v  Penulisan mushaf Alquran
adalah salah satu faktor yang menyebabkan seni kaligrafi mendapatkan tempat yang tinggi dalam agama Islam bukan saja sebagai seni tapi sudah merupakan bagian dari agama dan merupakan sebuah perkembangan.
Menulis mushaf Alquran secara lengkap adalah sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan waktu kesabaran ketelitian dan tenaga Meskipun demikian ternyata hampir semua kaligrafer pernah menulis mushaf Alquran walaupun sekali
Berikut ini adalah beberapa hal menarik terkait penulisan mulai dari mazhab yaqut mazhab Syekh hamdullah para kaligrafer yang menulis mushaf dengan jumlah yang mencengangkan sampai penulisan mushaf dengan cara-cara yang tidak biasa
Penulisan mushaf setidaknya bisa dibagi dalam tiga perjalanan atau marhalah:
1)      Marhalah pertama penulisan mushaf di awal Islam Khat yang digunakan adalah khat kufi. Mushaf yang tidak bertitik dan tidak berharakat .
2)      Marhalah kedua penulisan mushaf di zaman Abbasiyah yang digunakan adalah khot Layyinah. Pengembangan dari hot coffee yang lebih luwes marhalah ini adalah marhalah Baghdadi metode nya disebut uslub yaquti. Pada masa Daulah Abbasiyah penulisan mushaf mulai menggunakan tulisan yang memiliki karakter luwes dengan huruf-huruf lengkung dan memutar. Dikenal dengan khot layyinah, dengan 6 jenis tulisan yang disebuti al a'lam assittah : mujaqqaq, rayhani, tsuluts, naskh, raqa' dan tauqi' .
3)      Marhalah ketiga adalah penulisan mushaf di zaman Turki Usmani yang digunakan adalah khat naskhi sebagai tulisan utama. Marhalah ini berlangsung sampai sekarang merupakan standar penulisan mushaf modern.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Utsman bin Affan membukkanAl-Quran karena inisiatifnya sendiri setelah mendengar kabar dari Hudzaifah, dan ia menggerakkannsahabat-sahabatnya untuk menulis Mushaf ulang, yang sekarang kita sebut mushaf Utsmani dengan menganbil bebagai sumber suhuf. Dan mendistribusukannya ke berbagai negri islam bersamaan dengan pengaar bacaannya.  Juuga telah ditetapkan 1 bacaan yaitu Qiraat Quraisy.
Setelah itu mushaf Utsmani terus mengalami perkembangan terutama pada penulisannya;pemberian titik dan harakat, pada pembukuannya; mulai di cetak, dan pada perkembangan keindahan tulisannya; kaligrafi/Khot.












DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Al-A’zami, M. M. 2006. The History of The Qur’anic Text from Revelation to complication A Comparative Study with the Old New Testaments ( Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Komplikasi ). Jakarta: GEMA INSANI
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 1999. Pengantar Ilmu Fiqh. Semarang: PT. PUSTAKA RIZKI PUTRA
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 1987. Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Jakatra: PT. Bulan Bintang
Website :




[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu Al-Quran dan Tafsir, hlm. 67
[2] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, hlm. 144
[3] Prof. Dr. M.M. Al-Azmi, Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Komplikasi, hlm. 99
[4] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, hlm. 145-146
[5] Prof. Dr. M.M. Al-Azmi, Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Komplikasi, hlm. 105