Sabtu, 13 April 2019

makalah filsafat : filsafat zaman Pra- socrates dan socrates

PERKEMBANGAAN FILSAFAT
ERA PRA-SOCRATES DAN ERA SOCRATES
Dosen Pengampu : Gesit Yuda
Disusun Oleh :
1.     Aan Purbayoga     (1031030202)
2.     Tito Saksono         (1831030183)
3.     Qory Emalia          (1831030029)
4.     Nanda Inkafitri     (1831030200)

FAKULTAS USHULUDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
Sukarame JL. H. Endro Suratmin. Bandar Lampung 35131
2018/2019



KATA PENGANTAR

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

            Syukur dan Alhamdulillah, dengan rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah kami mengenai Perkembangan Filsafat Era Pra-Socrates dan Era Socrates telah dapat kami selesaikan dengan baik insyaallah. Shalawat beriring salam kita sanjungkan kepada Rasulullah yang telah bertugas untuk memperbaiki akhlak dan pola pikir umat manusia.
            Mengetahui dan mencari tahu akan kebenaran adalah tujuan dari ilmu filsafat, dengan semakin berkembangnya zaman maka berkembangnya juga pola pikir manusia.  Dengan adanya perkembangan itu, mengetahui perkembangan Filsafat pada Zaman Pra-Socrates dan zaman DSocrates dijadikan sebuah kajian pembahasan yang terdapat pada makalah ini, kita akan melihat pendapat-pendapat para filosof pada zamannya. Pembaca juga akan mengetahui beberapa hal tentang aliran-aliran, tokoh filsafat, dan karakteristik yang juga di ulas pada makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat dijadikan sebuah tambahan ilmu bagi pembaca.

            Sekian kata pengantar yang memberikan sedikit alur tujuan dari pembahasan yang akan di bahas dalam makalah ini.




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………
DAFTAR ISI………………………………………………………………..

BAB I :      PENDAHULUAN
a.              Latar Belakang …………………………………………………...
b.              Rumusan Masalah ………………………………………………..
c.              Tujuan…………………………………………………………….

BAB II :     PEMBAHASAN
1)      Filsafat Yunani  Klasik…………………………………………….. 
2)      Zaman Keemasan……………………………………………………   
3)      Filsafat Pra Socrates………………………………………………...
4)      Aliran Yang Terdapat di Zaman Pra Sokrates………………………  
5)      Riwayat Hidup Socrates…………………………………………….
6)      Pemikiraan Socrates………………………………………………...
7)      Etika Socrates…………………………………………………….....
8)      Murid-Murid Socrates………………………………………………

BAB III :        PENUTUP
a.       Kesimpulan………………………………………………………….
b.      Daftar  Pustaka……………………………………………………...







a.       Latar Belakang
            Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senantiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situsi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan ilahiah.
            Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan pikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses  mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
            Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang ini kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya. Umat manusia lebih dulu memifikrkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafati.
            Kegiatan manusia yang memiliki tingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia. Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.
            Meski bagaimanapun banyaknya gambaran yang kita dapatkan tentang filsafat, sebenarnya masih sulit untuk mendefinisikan secara konkret apa itu filsafat dan apa kriteria suatu pemikiran hingga kita bisa memvonisnya,karena filsafat bukanlah sebuah disiplin ilmu. Sebagaimana definisinya, sejarah dan perkembangan filsafat pun takkan pernah habis untuk dikupas. Tapi justru itulah mengapa filsafat begitu layak untuk dikaji demi mencari serta memaknai segala esensi kehidupan. Di dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai perkembangan filsafat yaitu Filsafat Yunani Kuno Pra Socrates dan karakteristiknya.





b.      Rumusan Masalah

1.      Filsafat Yunani  Klasik 
2.      Zaman Keemasan  
3.      Filsafat Pra Socrates
4.      Aliran Yang Terdapat di Zaman Pra Sokrates  
5.      Riwayat Hidup Socrates 
6.      Pemikiraan Socrates
7.      Etika Socrates
8.      Murid-Murid Socrates

c.       Tujuan Penulisan

1.      Mengetahui Filsafat Yunani  Klasik 
2.      Mengetahui Zaman Keemasan  
3.      Mengetahui  Filsafat Pra Socrates
4.      Mengetahui  Aliran Yang Terdapat di Zaman Pra Sokrates  
5.      Mengetahui  Riwayat Hidup Socrates 
6.      Mengetahui  Pemikiraan Socrates
7.      Mengetahui  Etika Socrates
8.      Mengetahui Murid-Murid Socrates












BAB II :          PEMBAHASAN
a.       Filsafat Yunani Klasik
            Filsafat klasik bersifat kosmensentris, filsafat abad pertengahan bersifat teosentris sedangkan filsafat modern bersifat antroposentris, dizaman yunani klasik, pusat perhatian filsafat adalah pertanyaan apa yang merupakan unsur pertama dari kosmos. Pada abad pertengahan Allah diakui sebagai pencipta alam semesta. Sedang pada zaman modern yang menjadi pergulatan filosof adalah manusia sendiri.
            Pada periode yunani klasik perkembangan filsafat menunjukan kepastian, yaitu ditandainya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Zaman klasik bermula dengan Socrates, tetapi Socrates belum sampai kepada sesuatu sistim filosofi, yang  memberikan nama klasik kepada filosofi itu. Sistem ajaran filosofi klasik baru dibangun oleh plato dan aristoteles, berdasaran ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta folosofi alam yang berkembang sebelum Socrates. Plato mencapai titik persatuan dalam Filosofi grik yang selama itu menyatakan perbedaan pandangan. untuk pertama kali dalam sejarah dunia barat, suatu sistem pandangan yang menyuluhi keseluruhannya dari satu pokok. Aristoteles meneruskan pokok pengertian Plato dan membangun suatu system  Filosofi yang di dalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial. Buah pikiran dalam sistem pengetahuan Plato dan Aristoteles menguasai alam pikiran orang barat sampai kira-kira dua ribu tahun lamanya. Itulah yang membarikan nama klasik kepada Filosofi mereka. Seperti pada:

b.      Zaman keemasan filsafat yunani kuno
            Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan, bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pda mitos atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos (dongeng-dongeng).
            Setelah pada abad ke -6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.
            Periode Yunani Kuno lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam, di mana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati di sekitarnya mereka membuat pernyataan-pernyataan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak berdasarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta yang sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang berubah.
            Ciri umum filsafat Yunani ialah rasionalisme. Rasionalisme Yunani itu mencapai puncaknya pada orang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu dipahami lebih dulu latar belakangnya. Latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya.
            Pada Abad Anthena dipimpin oleh perikles kegiatan politik dan filsafat dapat berkembang dengan baik. Ada segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis. Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum muda. Yang menjadikan objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagiaman yang dikatakan oleh prothagoras, manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini ini ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai – nilai objektif  yang dijunjung tinggi oleh semua orang, akibat ucapan tersebut socrates dihukum mati.
            Hasil pemikiran Socrates dapat diketemukan pada muridnya plato.dalam filsafatnya plato mengatakan ‘’realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide’’ pendapat tersebut dikritik oleh Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia – manusia yang kongkrit ‘’ide manusia’’ tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah filosof realis dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan adalah abstraksi yakni aktivitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi.yakni :
a)      abstraksi fisis
b)      abstraksi metematis
c)      abstraki metafisis
            Abstraksi yang ingin menangkap pengertian dengan membuang unsur – unsur individual untuk mencapai kualitas adalah abstraksi fisis. Sedang abstraksi dimana  objek subjek menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif  disebut abstraksi matematis. Abstraksi dimana seseorang menangkap unsur – unsur hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis. Teori Aristoteles yang terkenal adalah tentang materi dan bentuk keduanya ini merupakan prinsip – prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan . teori ini terkenal dengan sebutan Hylemorfisme.[1]
c.        Filsafat Pra Socrates
Filsafat Pra Socrates adalah filsafat yang dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng yang diterima dari agama yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu baik di dunia maupun manusia, para pemikir atau ahli filsafat yang disebut orang bijak yang mencari-cari jawabannya sebagai akibat terjadinya alam semesta beserta isinya tersebut.
            Pemikiran filusuf inilah yang memberikan asal muasal segala sesuatu baik di dunia maupun manusia yang menyebabkan akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng tersebut, dengan dimulai oleh akal manusia untuk mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu.
            Filsafat Pra Socrates dapat dikatakan bahwa mereka adalah filsafat alam artinya para ahli pikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli filsafat tersebut, atau objek pemikirannya adalah alam semesta. Tujuan filosofi mereka dalam memikirkan soal alam besar darimana terjadinya alam itulah yang menjadi sentral persoalan bagi mereka, pemikiran yang demikian itu merupakan pemikiran yang sangat maju, rasional dan radikal. Sebab pada waktu itu kebanyakan orang menerima begitu saja keadaan alam seperti apa yang dapat ditangkap dengan indranya, tanpa mempersoalkannya lebih jauh. Sedang di lain pihak orang cukup puas menerima keterangan tentang kejadian alam dari cerita nenek moyang.
            Filosuf yang hidup pada masa pra Socrates disebut para filosuf alam karena objek yang mereka jadikan pokok persoalan adalah alam. Yang dimaksud dengan alam (fusis) adalah kenyataan hidup dan kenyataan badaniah. Jadi, perhatian mereka mengarah kepada apa yang dapat diamati.
Ada beberapa filsuf  pada masa ini :
1.      Thales
Filsuf pertama yang  hidup masa abad 6 SM ini adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke mesir. Ia menemukan ilmu ukur dari mesir lalu dibawa oleh ia ke yunanai, ia  juga dikenaal sebaagiaa ahli astronomi dan metafisika.
Pendapat yang terkenal dari ia adalah segala sesuaatu berasal dari air. Air adalah pusat dan sumber segala yang ada di bumi ini, segala sesuaatu berasal dari air dan kembali ke air. Dan dari airlah segala tumbuhan bisa tumbuh
Dalam pandangannya animisme ialah kepercayaan bahwa bukan saja barang yang hidup mempunyai jiwa, tetapi benda mati pun punya jiwa. Sungguh demikian ia terbilang sebagai bapak Filsuf, karena ia mengembangkan filfufnya dan mengajarkan kepada murid – muridnya  kemudian di tulis oleh Aristoteles.

2.      Anaximandros
Ia merupakan salah satu murid Thales. Ia adalah orang pertama yang mengarang sebuah traktat dalam kesusateraan yunani, dan berjasa dalam bidang astronomi dan geographi. Ia orang pertama yang membuat peta bumi.
Ia berependapat udara adalah aasal usul segal sesuaatu, udara melahirkan semua benda dalam proses alam smemsta, karena suatu pemadatan dan pengeceran,  kalau muncul udara semakin banyak maka munculah angin yang kencang, air tanah dan akhirnya batu. Dan mengataakan bahwa bumi itu itu seperti meja bundar yang melayang diatas udara, sedanglan matahari dan benda lainya itu mengelilingi bumi yang datar ini.
3.      Pytaghoras
Meurut ia manusia adalah tuhan yang jatuhke bumi karena berdosa dan ia akan kembali  ke langit lagi apabila sudah habis dicuci dosanya.
Pytaghoras juga disebut ahli pikir terutama bidang matematik dan berhitung. Falsafah kehidupan nya banyak dipahami oleh angka—angka. Dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan angka.
4.      Heraclitos
Merupakan teman kecil dari pytaghoras, akan tetapi lebih tua. ia mendapat julukan Si Gelap karena sulit memahami alur gerak fikiranya. Menurutt sejarah ia mempunyai sifat sombong, mudah mengatakan seseorang bodoh, dan mencela orang lain. Ia berpendapat segaala yang ada selalu berubah dan sedang menjadi.
5.      Parmenides
Ia merupakan logikawan pertama yang dalam pengertian modern. Sisitem pemikiranya secara keseluruhan di dasarkan pada dedikasi logis tidak menggunakan metode instuisi. Ia menyatakan bahwa ukuran kebenaran adalah akal manusia.[2]
d.      Aliran-Aliran Filsafat Pra-Socrates

1.      Aliran Miletis/ Madzhab Milesian
A.    Thales
Ia berpendapat bahwa hakikat alami adalah air. Segal sesuatu berasal darii air.
B.     Anaximander
Ia adalah murid dari Thales. Ia berpendapat bahwa hakikat yang disuguhkann yaitu pengetahuan indrawi dan pengetahuan rasional.

2.      Aliran Pluralis
A.    Empledokles
Ia menulis buah pikiranya dalam puisi. Ia menyatakaan bahwa realitasnya seluruhnya bukan satu unsur melainkan terdiri dari banyak hal.

3.      Aliran Sofis
Berasal dari kalimat “Sophos” berarti cerdik. Tokohnya adalah Protagoras, grogias, hippias, prodkos, dan krotias.[3]

e.       Riwayat Hidup Socrates
Socrates lahir sekitar tahun 470 SM dan dihukum mati dengan harus minum racun pada tahun 399 SM. Bapaknya seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos dan ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan. Dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak. Socrates sendiri ketika masih muda mempelajari serta membantu ayahnya. Ia sebenarnya berasal dari keluarga yang kaya dan kemudian menjadi miskin, tetapi ia masih mendapatkan pendidikan yang baik. Ia berguru kepada Arkhelaos tapi tidak puas dengan gurunya hingga pada usia yang masih muda telah berbalik dari filsafat alam dan mencari jalan sendiri. Ia banyak membaca buku dan pergaulannya meliputi berbagai lapisan masyarakat.
Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah Socrates dalam dialog Plato dimana Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya sehingga sangat sulit memisahkan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates.
Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus. Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam.
Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Cara berfilsatnya inilah yang memunculkan rasa sakit hati terhadap Sokrates karena setelah penyelidikan itu maka akan tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka duga dan ketahui.
Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya. Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu kontrak yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus.[4]

f.       Pemikiran Socrates
Socrates merupakan pemikir yang memperkenalkan istilah theoria sebagai pengetahuan. Menurut dia, tugas negara adalah mendidik warga negara dalam keutamaan yakni memberikan kebahagiaan kepada setiap warga negara serta membuat jiwa mereka sebaik mungkin. Penguasa negara haruslah memiliki pengertian tentang “yang baik”. Socrates di masanya belum menawarkan sebuah sistem pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena, di mana pemegang kuasa dipilih oleh majelis rakyat atau ditentukan dengan undian, karena yang dipilih bukanlah seorang yang mempunyai keahlian khusus. Bagi Socrates, keahlian yang sungguh-sungguh menjamin kesejahteraan negara adalah pengenalan tentang yang baik. Di masa hidupnya Socrates memang termasuk pejuang demokrasi. Dalam karya Plato yang berjudul Crito, Socrates dipandang kedengkian orang terhadapnya, Socrates tetap ingin menunjukkan bahwa dirinya senantiasa taat pada peraturan. Ia berpegang teguh pada prinsipnya serta tidak terpengaruh dengan godaan materi. Sikapnya ini tentu dilandasi oleh prinsip etikanya tentang “yang baik” itu yang juga berimplikasi pada filsafat politiknya.
Socrates adalah penganut moral yang absolute dan menyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filsuf, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Menurut Socrates, keadilan (justice) merupakan tujuan politik yang utama. Karena keadilan merupakan hal yang esensial bagi pemenuhan kecenderungan alamiah manusia. Menempatkan keadilan sebagai patokan politik sebagai aktualisasi bakat-bakat manusia. Baginya, keadilan ialah melaksanakan apa yang menjadi fungsi atau pekerjaan sendiri sebaik-baiknya tanpa mencampuri fungsi atau pekerjaan orang lain (the practice of minding one’s business).
Socrates juga menambahkan bahwa setiap hal yang dikerjakan mengandung kebajikan (victue) tersendiri. Yang menjadi patokan kebaikan ialah secara alamiah sangat sesuai, yakni kebajikan setiap hal untuk melakukan aktivitas apa saja secara baik yang sesuai dengan sifatnya. Socrates menganalogikan tiga hal tipe manusia dan tipe masyarakat yakni: Pertama, sifat nafsu (desire) dilambangkan sebagai pedagang yang bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya. Kedua, sifat semangat (spirit) dilambangkan sebagai seorang prajurit yang menjaga tata kehidupan masyarakat. Ketiga, sifat akal budi (reason) dilambangkan sebagai filosof yang berfungsi sebagai penguasa.
Menurut Socrates, suatu masyarakat (rezim) dikatakan adil bila masing-masing bisa bekerjasama secara maksimal dan harmonis di bawah pimpinan filsofof raja yang bijaksana. Berkaitan dengan kesejajaran antara jiwa dan tipe masyarakat di atas, Socrates membedakan masyarakat (rezim) menjadi lima tipe, yaitu:
1.      Aristokras. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim terbaik, karena yang memerintah seorang raja yang bijaksana (filosof). Keadilan akan terwujud dalam tipe rezim aristokrasi sebab setiap kelas dalam masyarakat melaksanakan fungsi secara maksimal dan bekerjasama secara harmonis di bawah pimpinan sang raja yang filosof. Rezim ini dijiwai dengan akal budi.
2.      Timokrasi. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim kedua. Selain itu, rezim ini diperintah oleh mereka yang menyukai akan kehormatan dan kebanggaan, yakni prajurit. Rezim ini dijiwai dengan semangat.
3.      Oligarki. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim yang diperintah oleh kelompok kecil yang memiliki kejayaan melimpah (saudagar dan pengusaha). Rezim ini dijiwai dengan keinginan yang perlu (necessary desire).
4.      Demokrasi. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim yang dipimpin oleh banyak orang yang hanya mengandalkan atau keinginan yang tak perlu (unnecessary desire).
5.      Tirani. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim yang terburuk karena yang memerintahkan seorang tiran yang bertindak sekehendak nafsunya. Seorang tiran tidak mempunyai kontrol atas dirinya. Keadilan sama sekali tidak terwujud dalam rezim ini.
Pandangan Socrates yang terpenting adalah bahwa pada diri setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Karena itu setiap orang sesungguhnya bisa menjawab semua persoalan yang dihadapinya. Masalahnya adalah pada orang-orang itu, kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa dalam dirinya terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Karena itu menurut Socrates, perlu ada orang lain yang ikut mendorong mengeluarkan ide-ide atau jawaban-jawaban yang masih terpendam itu. dengan perkataan lain perlu semacam “bidan” untuk membantu kelahiran sang ide dari dalam kalbu manusia. Maka pekerjaan Socrates sehari-hari adalah berjalan-jalan di tengah kota, berkeliling di pasar-pasar untuk berbicara dengan semua orang yang dijumpai untuk menggali jawaban-jawaban terpendam mengenai berbagai persoalan.
Dengan metode tanya jawab yang disebut metode Socrates ini akan timbul pengertian yang disebut “Maieutics” (menarik ke luar seperti yang dilakukan bidan). Pengertian tentang diri sendiri ini menurut Socrates sangat penting buat tiap-tiap manusia. Adalah kewajiban setiap orang untuk mengetahui dirinya sendiri terlebih dahulu kalau ia ingin mengerti tentang hal-hal lain di luar dirinya. Ia mempunyai semboyan “belajar yang sesungguhnya pada manusia adalah belajar tentang manusia”.

g.      Etika Socrates
Budi ialah tahu, kata Socrates. Orang yang berpengetahuan dengan  sendirinya berbudi baik. Siapa yang mengetahui hukum pasti bertindak dengan pengetahuannya. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan maka budi itu dapat dipelajari. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa ajaran etik Socrates bersifat intelektual dan juga rasional. Apabila budi adalah tahu maka tak ada orang yang sengaja berbuat jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. “Jahat” hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar.
Oleh karena budi adalah tahu, maka siapa yang mengetahui kebaikan pastilah dia berbuat baik. Menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup. Apa itu kesenangan hidup? hal ini tidak pernah dipersoalkan oleh Socrates sehingga murid-muridnya kemudian memberikan pendapatnya sendiri-sendiri yang bertentangan satu sama lain. Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik yang rasional itu Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya di zalimi lebih baik dari pada mendzalimi. Socrates adalah orang yang mempercayai tuhan.

h.      Murid-Murid Socrates
Diantara murid-murid Socrates ada tiga orang yang mengaku meneruskan pelajarannya, yaitu Euklides, Antisthenes dan Aristippos.
Euklides mengajarkan filosofinya di kota Megara. Sebelum ia belajar pada Socrates, ia telah mempelajari filosofi Elea, terutama ajaran Permenindes yang mengatakan bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah. Pendapat ini disatukan dengan etika Socrates. Lalu diajarkannya: Yang satu itu baik. Hanya orang sering menyebut yang satu itu dengan berbagai anggapan: Tuhan, akal, dan lainnya. Lawan satu itu tiada.Yang baik selalu ada, tidak berubah.
Antisthenes mula-mula murid guru sofis Gorgias. Kemudian ia menjadi pengikut Socrates. Setelah Socrates meninggal, ia membuka sekolah filosofi di Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Menurut ajaran Antisthenes, budi adalah satu-satunya yang baik. Budi adalah segala rasa cukup. Di luar itu tidak perlu mencari kesenangan hidup. Dalam dua halia menyimpang dari Socrates. Pertama, ia memungut biaya sekolah. Bagi Socrates, ia pantang menerima bayaran. Kedua, tentang pengertian. Bagi Antisthenes, pengertian itu tidak ada. Yang adahanya kata-kata, masing-masing mempunyai arti sendiri. Kata yang satu tak dapat menentukan kata yang lain.
Aristippos mengajarkan filosofinya di Kyrena.Mula-mula ia belajar pada guru sofis dan kemudian menjadi murid Socrates. Dalam ajarannya ia jauh menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya, kesenangan hidup harus menjadi tujuan. Sebab itulah, ajarannya disebut hedonisme. Hanya kesenangan hidup harus dicapai dengan pertimbangan yang tepat, tidak serampangan.
Euklides, Antisthenes dan Aristippos, masing-masing mendirikan sekolah Socrates sebagai tanda cinta kepada gurunya. Namun mereka bukanlah murid Socrates yang sepenuhnya.Murid Socrates yang sesungguhnya adalah Plato. Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selangkah dalam pemikirannya. Socrates baru sampai pada pemikiran tentang sesuatu yang umum dan merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara kongkret, yaitu ide. Dunia ide inilah yang hanya dapat dipikirkan dan diketahui oleh akal.[5]










BAB III :        PENUTUP

Simpulan
Socrates adalah Bapak Filsafat yang mengakhiri hidupnya dengan racun karena menetapi prinsipnya tentang pantas dan tidak pantas, tentang bersalah dan tidak bersalah, bijak dan tidak bijak menurut pemahaman dan kontemplasi diri-sendiri, serta permenungan dengan kawan-kawan filsafatnya. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.












DAFTAR PUSTAKA
1. Hadian Noor, Sejarah Filsafat, Cet. 1, (Malang: Citra Mentari Group, 1997)
2. M.T. Thahir, Falsafah Junani Kuno-Abad Socrates, Cet. V, (Jogjakarta: Tt, 1960)
3. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1980)
4. Hadian Noor, Sejarah Filsafat, op. cit.
5. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976).
6.The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1999).



[1] . Hadian Noor, Sejarah Filsafat, Cet. 1, (Malang: Citra Mentari Group, 1997)
[2] . Hadian Noor, Sejarah Filsafat, op. cit.

[3] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1999).
[4] M.T. Thahir, Falsafah Junani Kuno-Abad Socrates, Cet. V, (Jogjakarta: Tt, 1960)
[5] Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar