PERKEMBANGAAN FILSAFAT
ERA PRA-SOCRATES DAN ERA SOCRATES
Dosen Pengampu : Gesit Yuda

Disusun Oleh :
1.
Aan Purbayoga (1031030202)
2.
Tito Saksono (1831030183)
3.
Qory Emalia (1831030029)
4.
Nanda Inkafitri (1831030200)
FAKULTAS USHULUDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
Sukarame JL. H. Endro Suratmin. Bandar
Lampung 35131
2018/2019
KATA PENGANTAR
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ
الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ
الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ
وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Syukur dan Alhamdulillah, dengan
rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah kami mengenai Perkembangan Filsafat
Era Pra-Socrates dan Era Socrates telah dapat kami selesaikan dengan baik
insyaallah. Shalawat beriring salam kita sanjungkan kepada Rasulullah yang
telah bertugas untuk memperbaiki akhlak dan pola pikir umat manusia.
Mengetahui dan mencari tahu akan kebenaran
adalah tujuan dari ilmu filsafat, dengan semakin berkembangnya zaman maka
berkembangnya juga pola pikir manusia.
Dengan adanya perkembangan itu, mengetahui perkembangan Filsafat pada
Zaman Pra-Socrates dan zaman DSocrates dijadikan sebuah kajian pembahasan yang
terdapat pada makalah ini, kita akan melihat pendapat-pendapat para filosof
pada zamannya. Pembaca juga akan mengetahui beberapa hal tentang aliran-aliran,
tokoh filsafat, dan karakteristik yang juga di ulas pada makalah ini. Penulis
berharap makalah ini dapat dijadikan sebuah tambahan ilmu bagi pembaca.
Sekian kata pengantar yang
memberikan sedikit alur tujuan dari pembahasan yang akan di bahas dalam makalah
ini.
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………………
DAFTAR ISI………………………………………………………………..
BAB I : PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang …………………………………………………...
b.
Rumusan Masalah ………………………………………………..
c.
Tujuan…………………………………………………………….
BAB II : PEMBAHASAN
1) Filsafat Yunani Klasik……………………………………………..
2) Zaman Keemasan……………………………………………………
3) Filsafat Pra Socrates………………………………………………...
4) Aliran Yang Terdapat di Zaman Pra Sokrates………………………
5) Riwayat Hidup Socrates…………………………………………….
6) Pemikiraan Socrates………………………………………………...
7) Etika Socrates…………………………………………………….....
8) Murid-Murid Socrates………………………………………………
BAB III : PENUTUP
a. Kesimpulan………………………………………………………….
b. Daftar Pustaka……………………………………………………...
a. Latar Belakang
Dalam menghadapi seluruh kenyataan
dalam hidupnya, manusia senantiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia
ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari
keterbatasannya. Dalam situsi itu banyak yang berpaling kepada agama atau
kepercayaan ilahiah.
Tetapi sudah sejak awal sejarah,
ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi
dan pikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala
kenyataan (realitas) itu. Proses mencari
tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu
memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya
dapat dipertanggung jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Jauh sebelum manusia menemukan dan
menetapkan apa yang sekarang ini kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu
sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain
sebagainya. Umat manusia lebih dulu memifikrkan dengan bertanya tentang berbagai
hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita
sebut sebagai sebuah jawaban filsafati.
Kegiatan manusia yang memiliki
tingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai
hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia. Bagian filsafat yang
paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang
merupakan sebab dari segala kebenaran.
Meski bagaimanapun banyaknya
gambaran yang kita dapatkan tentang filsafat, sebenarnya masih sulit untuk
mendefinisikan secara konkret apa itu filsafat dan apa kriteria suatu pemikiran
hingga kita bisa memvonisnya,karena filsafat bukanlah sebuah disiplin ilmu.
Sebagaimana definisinya, sejarah dan perkembangan filsafat pun takkan pernah
habis untuk dikupas. Tapi justru itulah mengapa filsafat begitu layak untuk
dikaji demi mencari serta memaknai segala esensi kehidupan. Di
dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai perkembangan filsafat yaitu Filsafat
Yunani Kuno Pra Socrates dan karakteristiknya.
b. Rumusan Masalah
1. Filsafat Yunani Klasik
2. Zaman Keemasan
3. Filsafat Pra Socrates
4. Aliran Yang Terdapat di Zaman Pra Sokrates
5. Riwayat Hidup Socrates
6. Pemikiraan Socrates
7. Etika Socrates
8. Murid-Murid Socrates
c. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Filsafat Yunani Klasik
2. Mengetahui Zaman
Keemasan
3. Mengetahui Filsafat Pra Socrates
4. Mengetahui Aliran Yang Terdapat di Zaman Pra Sokrates
5. Mengetahui Riwayat Hidup Socrates
6. Mengetahui Pemikiraan Socrates
7. Mengetahui Etika Socrates
8. Mengetahui Murid-Murid Socrates
BAB II : PEMBAHASAN
a.
Filsafat
Yunani Klasik
Filsafat klasik bersifat
kosmensentris, filsafat abad pertengahan bersifat teosentris sedangkan filsafat
modern bersifat antroposentris, dizaman yunani klasik, pusat perhatian filsafat
adalah pertanyaan apa yang merupakan unsur pertama dari kosmos. Pada abad
pertengahan Allah diakui sebagai pencipta alam semesta. Sedang pada zaman
modern yang menjadi pergulatan filosof adalah manusia sendiri.
Pada periode yunani klasik
perkembangan filsafat menunjukan kepastian, yaitu ditandainya semakin besar
minat orang terhadap filsafat. Zaman klasik bermula dengan Socrates, tetapi
Socrates belum sampai kepada sesuatu sistim filosofi, yang memberikan nama klasik kepada filosofi itu.
Sistem ajaran filosofi klasik baru dibangun oleh plato dan aristoteles,
berdasaran ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta folosofi alam
yang berkembang sebelum Socrates. Plato mencapai titik persatuan dalam Filosofi
grik yang selama itu menyatakan perbedaan pandangan. untuk pertama kali dalam
sejarah dunia barat, suatu sistem pandangan yang menyuluhi keseluruhannya dari
satu pokok. Aristoteles meneruskan pokok pengertian Plato dan membangun suatu
system Filosofi yang di dalamnya
terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial. Buah pikiran dalam
sistem pengetahuan Plato dan Aristoteles menguasai alam pikiran orang barat
sampai kira-kira dua ribu tahun lamanya. Itulah yang membarikan nama klasik kepada
Filosofi mereka. Seperti pada:
b.
Zaman
keemasan filsafat yunani kuno
Orang Yunani yang hidup pada abad
ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan, bahwa segala sesuatunya harus diterima
sebagai suatu kebenaran yang bersumber pda mitos atau dongeng-dongeng. Artinya,
suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlaku hanya
suatu kebenaran yang bersumber pada mitos (dongeng-dongeng).
Setelah pada abad ke -6 SM muncul
sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan
tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional).
Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan
pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.
Periode Yunani Kuno lazim disebut
periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai
dengan munculnya para ahli pikir alam, di mana arah dan perhatian pemikirannya
kepada apa yang diamati di sekitarnya mereka membuat pernyataan-pernyataan
tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak
berdasarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta yang
sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang berubah.
Ciri umum filsafat Yunani ialah
rasionalisme. Rasionalisme Yunani itu mencapai puncaknya pada orang-orang
sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu dipahami lebih dulu latar
belakangnya. Latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada
sebelumnya.
Pada Abad Anthena dipimpin oleh
perikles kegiatan politik dan filsafat dapat berkembang dengan baik. Ada
segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis.
Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum muda. Yang menjadikan
objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagiaman yang dikatakan
oleh prothagoras, manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini ini
ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang baik harus
dipandang sebagai nilai – nilai objektif
yang dijunjung tinggi oleh semua orang, akibat ucapan tersebut socrates
dihukum mati.
Hasil pemikiran Socrates dapat
diketemukan pada muridnya plato.dalam filsafatnya plato mengatakan ‘’realitas
seluruhnya terbagi atas dua dunia yang dunia yang pertama adalah dunia jasmani
dan yang kedua dunia ide’’ pendapat tersebut dikritik oleh Aristoteles dengan
mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia – manusia yang kongkrit ‘’ide
manusia’’ tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah filosof realis dan
sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan adalah abstraksi yakni
aktivitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles
ada tiga macam abstraksi.yakni :
a) abstraksi fisis
b) abstraksi metematis
c) abstraki metafisis
Abstraksi yang ingin menangkap
pengertian dengan membuang unsur – unsur individual untuk mencapai kualitas
adalah abstraksi fisis. Sedang abstraksi dimana
objek subjek menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur
kualitatif disebut abstraksi matematis.
Abstraksi dimana seseorang menangkap unsur – unsur hakiki dengan
mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis. Teori Aristoteles
yang terkenal adalah tentang materi dan bentuk keduanya ini merupakan prinsip –
prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan sedangkan bentuk
adalah prinsip yang menentukan . teori ini terkenal dengan sebutan
Hylemorfisme.[1]
c.
Filsafat Pra Socrates
Filsafat Pra Socrates adalah filsafat yang dilahirkan karena
kemenangan akal atas dongeng yang diterima dari agama yang memberitahukan
tentang asal muasal segala sesuatu baik di dunia maupun manusia, para pemikir
atau ahli filsafat yang disebut orang bijak yang mencari-cari jawabannya sebagai
akibat terjadinya alam semesta beserta isinya tersebut.
Pemikiran filusuf inilah yang
memberikan asal muasal segala sesuatu baik di dunia maupun manusia yang
menyebabkan akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng tersebut, dengan
dimulai oleh akal manusia untuk mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam
semesta yang menakjubkan itu.
Filsafat Pra Socrates dapat
dikatakan bahwa mereka adalah filsafat alam artinya para ahli pikir yang
menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli
filsafat tersebut, atau objek pemikirannya adalah alam semesta. Tujuan filosofi
mereka dalam memikirkan soal alam besar darimana terjadinya alam itulah yang
menjadi sentral persoalan bagi mereka, pemikiran yang demikian itu merupakan
pemikiran yang sangat maju, rasional dan radikal. Sebab pada waktu itu
kebanyakan orang menerima begitu saja keadaan alam seperti apa yang dapat
ditangkap dengan indranya, tanpa mempersoalkannya lebih jauh. Sedang di lain
pihak orang cukup puas menerima keterangan tentang kejadian alam dari cerita
nenek moyang.
Filosuf yang hidup pada masa pra
Socrates disebut para filosuf alam karena objek yang mereka jadikan pokok
persoalan adalah alam. Yang dimaksud dengan alam (fusis) adalah kenyataan hidup
dan kenyataan badaniah. Jadi, perhatian mereka mengarah kepada apa yang dapat
diamati.
Ada beberapa filsuf pada masa ini
:
1. Thales
Filsuf pertama yang hidup masa abad 6 SM ini adalah seorang
saudagar yang sering berlayar ke mesir. Ia menemukan ilmu ukur dari mesir lalu
dibawa oleh ia ke yunanai, ia juga
dikenaal sebaagiaa ahli astronomi dan metafisika.
Pendapat yang terkenal dari ia adalah
segala sesuaatu berasal dari air. Air adalah pusat dan sumber segala yang ada
di bumi ini, segala sesuaatu berasal dari air dan kembali ke air. Dan dari
airlah segala tumbuhan bisa tumbuh
Dalam pandangannya animisme ialah kepercayaan
bahwa bukan saja barang yang hidup mempunyai jiwa, tetapi benda mati pun punya
jiwa. Sungguh demikian ia terbilang sebagai bapak Filsuf, karena ia
mengembangkan filfufnya dan mengajarkan kepada murid – muridnya kemudian di tulis oleh Aristoteles.
2. Anaximandros
Ia merupakan salah satu murid Thales. Ia
adalah orang pertama yang mengarang sebuah traktat dalam kesusateraan yunani,
dan berjasa dalam bidang astronomi dan geographi. Ia orang pertama yang membuat
peta bumi.
Ia berependapat udara adalah aasal usul
segal sesuaatu, udara melahirkan semua benda dalam proses alam smemsta, karena
suatu pemadatan dan pengeceran, kalau muncul
udara semakin banyak maka munculah angin yang kencang, air tanah dan akhirnya
batu. Dan mengataakan bahwa bumi itu itu seperti meja bundar yang melayang
diatas udara, sedanglan matahari dan benda lainya itu mengelilingi bumi yang
datar ini.
3. Pytaghoras
Meurut ia manusia adalah tuhan yang jatuhke
bumi karena berdosa dan ia akan kembali
ke langit lagi apabila sudah habis dicuci dosanya.
Pytaghoras juga disebut ahli pikir terutama
bidang matematik dan berhitung. Falsafah kehidupan nya banyak dipahami oleh angka—angka.
Dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan angka.
4. Heraclitos
Merupakan teman kecil dari pytaghoras, akan
tetapi lebih tua. ia mendapat julukan Si Gelap karena sulit memahami alur gerak
fikiranya. Menurutt sejarah ia mempunyai sifat sombong, mudah mengatakan
seseorang bodoh, dan mencela orang lain. Ia berpendapat segaala yang ada selalu
berubah dan sedang menjadi.
5. Parmenides
Ia merupakan logikawan pertama yang dalam
pengertian modern. Sisitem pemikiranya secara keseluruhan di dasarkan pada
dedikasi logis tidak menggunakan metode instuisi. Ia menyatakan bahwa ukuran
kebenaran adalah akal manusia.[2]
d. Aliran-Aliran Filsafat Pra-Socrates
1. Aliran Miletis/ Madzhab Milesian
A. Thales
Ia berpendapat bahwa hakikat alami adalah
air. Segal sesuatu berasal darii air.
B. Anaximander
Ia adalah murid dari Thales. Ia berpendapat
bahwa hakikat yang disuguhkann yaitu pengetahuan indrawi dan pengetahuan
rasional.
2. Aliran Pluralis
A. Empledokles
Ia menulis buah pikiranya dalam puisi. Ia
menyatakaan bahwa realitasnya seluruhnya bukan satu unsur melainkan terdiri
dari banyak hal.
3. Aliran Sofis
Berasal dari kalimat “Sophos” berarti
cerdik. Tokohnya adalah Protagoras, grogias, hippias, prodkos, dan krotias.[3]
e.
Riwayat
Hidup Socrates
Socrates lahir sekitar tahun 470 SM dan dihukum mati dengan harus
minum racun pada tahun 399 SM. Bapaknya seorang pemahat patung dari batu (stone
mason) bernama Sophroniskos dan ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai
seorang bidan. Dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan
metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe
dan dikaruniai tiga orang anak. Socrates sendiri ketika masih muda mempelajari
serta membantu ayahnya. Ia sebenarnya berasal dari keluarga yang kaya dan
kemudian menjadi miskin, tetapi ia masih mendapatkan pendidikan yang baik. Ia
berguru kepada Arkhelaos tapi tidak puas dengan gurunya hingga pada usia yang
masih muda telah berbalik dari filsafat alam dan mencari jalan sendiri. Ia
banyak membaca buku dan pergaulannya meliputi berbagai lapisan masyarakat.
Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena
Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang
dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan
oleh Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling
terkenal diantaranya adalah Socrates dalam dialog Plato dimana Plato selalu
menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya sehingga sangat sulit
memisahkan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang
disampaikan melalui mulut Sorates.
Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya
sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus. Socrates
dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas
kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat.
Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan
suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan
bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak
dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi
satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak
diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah
yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang
membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya
pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam.
Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada
orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang
diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates
membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah
yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan
mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak
tahu kalau mereka tidak bijaksana. Cara berfilsatnya inilah yang memunculkan
rasa sakit hati terhadap Sokrates karena setelah penyelidikan itu maka akan
tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak
mengetahui apa yang sesungguhnya mereka duga dan ketahui.
Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian
Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah
tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya
sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat
pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan
yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati
dan 220 menolaknya. Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana
ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas
dasar kepatuhannya pada satu kontrak yang telah dia jalani dengan hukum di kota
Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo
karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu
peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping
peradilan Yesus Kristus.[4]
f.
Pemikiran
Socrates
Socrates merupakan pemikir yang memperkenalkan istilah theoria
sebagai pengetahuan. Menurut dia, tugas negara adalah mendidik warga negara
dalam keutamaan yakni memberikan kebahagiaan kepada setiap warga negara serta
membuat jiwa mereka sebaik mungkin. Penguasa negara haruslah memiliki
pengertian tentang “yang baik”. Socrates di masanya belum menawarkan sebuah
sistem pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena, di mana pemegang kuasa
dipilih oleh majelis rakyat atau ditentukan dengan undian, karena yang dipilih
bukanlah seorang yang mempunyai keahlian khusus. Bagi Socrates, keahlian yang
sungguh-sungguh menjamin kesejahteraan negara adalah pengenalan tentang yang
baik. Di masa hidupnya Socrates memang termasuk pejuang demokrasi. Dalam karya
Plato yang berjudul Crito, Socrates dipandang kedengkian orang terhadapnya,
Socrates tetap ingin menunjukkan bahwa dirinya senantiasa taat pada peraturan.
Ia berpegang teguh pada prinsipnya serta tidak terpengaruh dengan godaan
materi. Sikapnya ini tentu dilandasi oleh prinsip etikanya tentang “yang baik”
itu yang juga berimplikasi pada filsafat politiknya.
Socrates adalah penganut moral yang absolute dan menyakini bahwa
menegakkan moral merupakan tugas filsuf, yang berdasarkan idea-idea rasional
dan keahlian dalam pengetahuan. Menurut Socrates, keadilan (justice) merupakan
tujuan politik yang utama. Karena keadilan merupakan hal yang esensial bagi
pemenuhan kecenderungan alamiah manusia. Menempatkan keadilan sebagai patokan
politik sebagai aktualisasi bakat-bakat manusia. Baginya, keadilan ialah
melaksanakan apa yang menjadi fungsi atau pekerjaan sendiri sebaik-baiknya
tanpa mencampuri fungsi atau pekerjaan orang lain (the practice of minding
one’s business).
Socrates juga menambahkan bahwa setiap hal yang dikerjakan
mengandung kebajikan (victue) tersendiri. Yang menjadi patokan kebaikan ialah
secara alamiah sangat sesuai, yakni kebajikan setiap hal untuk melakukan
aktivitas apa saja secara baik yang sesuai dengan sifatnya. Socrates
menganalogikan tiga hal tipe manusia dan tipe masyarakat yakni: Pertama, sifat
nafsu (desire) dilambangkan sebagai pedagang yang bekerja mencari uang
sebanyak-banyaknya. Kedua, sifat semangat (spirit) dilambangkan sebagai seorang
prajurit yang menjaga tata kehidupan masyarakat. Ketiga, sifat akal budi
(reason) dilambangkan sebagai filosof yang berfungsi sebagai penguasa.
Menurut Socrates, suatu masyarakat (rezim) dikatakan adil bila
masing-masing bisa bekerjasama secara maksimal dan harmonis di bawah pimpinan
filsofof raja yang bijaksana. Berkaitan dengan kesejajaran antara jiwa dan tipe
masyarakat di atas, Socrates membedakan masyarakat (rezim) menjadi lima tipe,
yaitu:
1. Aristokras. Tipe ini dikategorikan
sebagai rezim terbaik, karena yang memerintah seorang raja yang bijaksana
(filosof). Keadilan akan terwujud dalam tipe rezim aristokrasi sebab setiap
kelas dalam masyarakat melaksanakan fungsi secara maksimal dan bekerjasama
secara harmonis di bawah pimpinan sang raja yang filosof. Rezim ini dijiwai
dengan akal budi.
2. Timokrasi. Tipe ini dikategorikan sebagai
rezim kedua. Selain itu, rezim ini diperintah oleh mereka yang menyukai akan
kehormatan dan kebanggaan, yakni prajurit. Rezim ini dijiwai dengan semangat.
3. Oligarki. Tipe ini dikategorikan sebagai
rezim yang diperintah oleh kelompok kecil yang memiliki kejayaan melimpah (saudagar
dan pengusaha). Rezim ini dijiwai dengan keinginan yang perlu (necessary
desire).
4. Demokrasi. Tipe ini dikategorikan sebagai
rezim yang dipimpin oleh banyak orang yang hanya mengandalkan atau keinginan
yang tak perlu (unnecessary desire).
5. Tirani. Tipe ini dikategorikan sebagai
rezim yang terburuk karena yang memerintahkan seorang tiran yang bertindak
sekehendak nafsunya. Seorang tiran tidak mempunyai kontrol atas dirinya.
Keadilan sama sekali tidak terwujud dalam rezim ini.
Pandangan
Socrates yang terpenting adalah bahwa pada diri setiap manusia terpendam
jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Karena itu setiap orang
sesungguhnya bisa menjawab semua persoalan yang dihadapinya. Masalahnya adalah
pada orang-orang itu, kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa dalam dirinya
terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Karena itu
menurut Socrates, perlu ada orang lain yang ikut mendorong mengeluarkan ide-ide
atau jawaban-jawaban yang masih terpendam itu. dengan perkataan lain perlu
semacam “bidan” untuk membantu kelahiran sang ide dari dalam kalbu manusia.
Maka pekerjaan Socrates sehari-hari adalah berjalan-jalan di tengah kota,
berkeliling di pasar-pasar untuk berbicara dengan semua orang yang dijumpai
untuk menggali jawaban-jawaban terpendam mengenai berbagai persoalan.
Dengan metode tanya jawab yang disebut metode Socrates ini akan
timbul pengertian yang disebut “Maieutics” (menarik ke luar seperti yang
dilakukan bidan). Pengertian tentang diri sendiri ini menurut Socrates sangat
penting buat tiap-tiap manusia. Adalah kewajiban setiap orang untuk mengetahui
dirinya sendiri terlebih dahulu kalau ia ingin mengerti tentang hal-hal lain di
luar dirinya. Ia mempunyai semboyan “belajar yang sesungguhnya pada manusia
adalah belajar tentang manusia”.
g.
Etika
Socrates
Budi ialah tahu, kata Socrates. Orang yang berpengetahuan
dengan sendirinya berbudi baik. Siapa
yang mengetahui hukum pasti bertindak dengan pengetahuannya. Oleh karena budi
berdasar atas pengetahuan maka budi itu dapat dipelajari. Dari gambaran
tersebut terlihat bahwa ajaran etik Socrates bersifat intelektual dan juga
rasional. Apabila budi adalah tahu maka tak ada orang yang sengaja berbuat
jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. “Jahat” hanya datang dari
orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau
penglihatan yang benar.
Oleh karena budi adalah tahu, maka siapa yang mengetahui kebaikan
pastilah dia berbuat baik. Menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya
untuk mencapai kesenangan hidup. Apa itu kesenangan hidup? hal ini tidak pernah
dipersoalkan oleh Socrates sehingga murid-muridnya kemudian memberikan
pendapatnya sendiri-sendiri yang bertentangan satu sama lain. Menurut Socrates,
manusia itu pada dasarnya baik. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan
sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik yang rasional itu Socrates
sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya
di zalimi lebih baik dari pada mendzalimi. Socrates adalah orang yang
mempercayai tuhan.
h.
Murid-Murid
Socrates
Diantara murid-murid Socrates ada tiga orang yang mengaku
meneruskan pelajarannya, yaitu Euklides, Antisthenes dan Aristippos.
Euklides mengajarkan filosofinya di kota Megara. Sebelum ia belajar
pada Socrates, ia telah mempelajari filosofi Elea, terutama ajaran Permenindes
yang mengatakan bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah. Pendapat ini
disatukan dengan etika Socrates. Lalu diajarkannya: Yang satu itu baik. Hanya
orang sering menyebut yang satu itu dengan berbagai anggapan: Tuhan, akal, dan
lainnya. Lawan satu itu tiada.Yang baik selalu ada, tidak berubah.
Antisthenes mula-mula murid guru sofis Gorgias. Kemudian ia menjadi
pengikut Socrates. Setelah Socrates meninggal, ia membuka sekolah filosofi di
Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Menurut ajaran Antisthenes, budi
adalah satu-satunya yang baik. Budi adalah segala rasa cukup. Di luar itu tidak
perlu mencari kesenangan hidup. Dalam dua halia menyimpang dari Socrates. Pertama,
ia memungut biaya sekolah. Bagi Socrates, ia pantang menerima bayaran. Kedua,
tentang pengertian. Bagi Antisthenes, pengertian itu tidak ada. Yang adahanya
kata-kata, masing-masing mempunyai arti sendiri. Kata yang satu tak dapat
menentukan kata yang lain.
Aristippos mengajarkan filosofinya di Kyrena.Mula-mula ia belajar
pada guru sofis dan kemudian menjadi murid Socrates. Dalam ajarannya ia jauh
menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya, kesenangan hidup harus menjadi
tujuan. Sebab itulah, ajarannya disebut hedonisme. Hanya kesenangan hidup harus
dicapai dengan pertimbangan yang tepat, tidak serampangan.
Euklides, Antisthenes dan Aristippos, masing-masing mendirikan
sekolah Socrates sebagai tanda cinta kepada gurunya. Namun mereka bukanlah
murid Socrates yang sepenuhnya.Murid Socrates yang sesungguhnya adalah Plato.
Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selangkah dalam
pemikirannya. Socrates baru sampai pada pemikiran tentang sesuatu yang umum dan
merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan
pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum”, tetapi yang
mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara kongkret,
yaitu ide. Dunia ide inilah yang hanya dapat dipikirkan dan diketahui oleh
akal.[5]
BAB III : PENUTUP
Simpulan
Socrates adalah Bapak Filsafat yang mengakhiri hidupnya dengan
racun karena menetapi prinsipnya tentang pantas dan tidak pantas, tentang
bersalah dan tidak bersalah, bijak dan tidak bijak menurut pemahaman dan
kontemplasi diri-sendiri, serta permenungan dengan kawan-kawan filsafatnya. Dia
selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang
dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan
gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara
gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak
karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa
bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka
tidak bijaksana.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Hadian
Noor, Sejarah Filsafat, Cet. 1, (Malang: Citra Mentari Group, 1997)
2. M.T.
Thahir, Falsafah Junani Kuno-Abad Socrates, Cet. V, (Jogjakarta: Tt, 1960)
3. Harun
Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1980)
4.
Hadian Noor, Sejarah Filsafat, op. cit.
5. Bertens,
Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976).
6.The
Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1999).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar