Sabtu, 13 April 2019

makalah Ulumul Hadits : Thabaqoh

BAB I
PENDAHULUAN




A.  LATAR BELAKANG


Thabaqat dalam periwayatan sangatlah pentinng dalam sebuah hadits. Karena banyaknya hadits palsu yang ada dimuka bumi ini, maka dalam proses penelitian sebuah hadits thobaqoh adalah hal yang sangat penting, demi mengetahui kualitas para perawi yang meriwayatkan dalam hal apakah ia pernah bertemu dengan orang  yang meriwaytakann sebelumnya, apakah masihh satu zaman atau tidak,.




B.  RUMUSAN MASALAH


1.    Apa pengertian Thabaqat ?
2.    Bagaimanakah tingkatan perawi hadits pada masa Sahabat ?
3.    Bagaimanakah tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’in ?
4.    Bagaimanakah tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’tabi’in ?
5.    Bagaimanakah tingkatan perawi hadits pada masa Mukhadram ?




C.  TUJUAN


1.    Untuk mengetahui pengertian Thabaqat
2.    Untuk mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Sahabat
3.    Untuk mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’in
4.    Untuk mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’tabi’in
5.    Untuk mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Mukhadram




BAB II
PEMBAHASAN



A.  Pengertian Thabaqot



Dalam bahasa Thabaqat diartikan  القومالمتشابهون:   kaum yang serupa atau sebaya.

Sedangkan menurut istilah adalah :



قَوْمٌتَقارَبُوْافىالسِّنِّوالإسنَادأوفىالإسنَادفقط

Kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja.


Thabaqat adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru.  Jadi para guru nya sebagian periwayat juga para guru nya sebagian perawi yang lain. Para ulama membuat tarif Ilmu Thabaqat, ialah :


علميبحثفيهعنكلجماعةتشتركفيأمرواحد
 “ Suatu ilmu pengetahuan yang dalam pokok pembahasannya diarahkan kepada  kelompok orang-orang yang berserikat dalam satu alat pengikat yang sama.


Dari segi bahasa, thabaqot diartikan kaum yang serupa atau sebaya. Menurut istilah, kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan ishnad / dalam ishnad saja. Thabaqot adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau ishnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam ishnad satu perguruan atau satu guru, atau diartikan berdekatan dalam  berguru. Jadi para gurunya sebagian periwayat juga para gurunya sebagian perawi lain. Misalnya thabaqot sahabat, thabaqot thabi’in, thabaqot tabi’it tabi’in dan seterusnya.[1]

B. Ash- Shahabah


Ash- Shahabah itu ialah sahabat- sahabat nabi. Kalau seorang disebut Shahabi. Tentang menetapkan siapa- siapa yang dikatakan sahabat itu,ada macam- macam pendapat ulama, tetapi yang agak lebih cocok adalah pendapat Imam Ibnu Hajar, yakni: Sahabat itu ialah orang  yanbertemu  Nabi  SAW,  beriman  kepadanya  serta  meninggal  dalam  keadaan beragama Islam.”

Menurut pendapat yang paling mashur adalah pendapat dari Al-Hakim,yaitu :
1. Hidup pada awal islam di Makkah dan masa khalifah
2. Islam sebelum ahlu makkah di darr an-nadwah
3. orang yang berhijrah ke habsyah
4. orang yang ikut perjanjian aqobah awal
5. orang yang ikut perjanjian aqobah kedua dan kebanyakan dari anshor
6. awal muhajir yang sholat dengan nabi sebelum masuk madinah
7. orang yang ikut perang badar
8. ahlu bai’ah di hudaibiyah
9. orang yang hijrah antara badar dan hudaibiyah
10. orang yang hijrah hudaibiyah dan fathul makkah, seperti khalid bin walid, amr bin ash, dan abi hurairah.
11. wanita muslim di fathul makkah
12. anak kecil, bayi yang melihat nabi di fathul makkah, haji awad’ dan lain-lain.[2]

Kita perlu tahu siapa saja yang termasuk dalam golongan sahabat Nabi SAW ; Karena ada banyak rawi yang dikatakan Sahabat, padahal mereka sebenarnya bukan sahabat, seperti:

1.   Shal bin Haritsah Al- Anshari : Ada orang yang menganggap dia sebagai sahabat tetapi kata  Ibnu  Mandah,  “ Tidak  sah  (keterangan  yang menetapkan  ia menjadi) sahabat; dan bilangannya menjadi seorang Tabi’in
2.   Yazid bin Naamah: Kata Askari , salah seorang yang mengatakan ia sahabat”, sebenarnya ia seorang Tabi’in.
3.   Saad bin Mas’ud  al- Kindi: Ada orang menganggap ia sahabat, tetapi tidak.

4.   ‘Abdullah  bin  Nasikh  al-  Hadlarami  :  Ada  yang  dimasukkan  golongan  sahabat, padahal ia bukan sahabat.


Dan ada pula beberapa rawi yang diperselisihkan ‘Ulama- ulama tentang mereka menjadi sahabat Nabi SAW, seperti:
1.      Atha’ bin Ibrahim
2.      Amr bin Salimah
3.      ‘Abdullah Ash- Shunabihi
4.      Yasdad al- Farisi
5.      Tamam bin ‘Abbas
6.      Tsabit bin ash- Shamil
7.      ‘Amr bin Sufyan
8.      Hakim bin Mu’awiyah
9.      Khalid bin Zaid bin Haritsah
10.  Syaibah bin Abdirrahman[3]

a.       Thabaqah Sahabat
Sebagaimana yang sudah diterangkan di atas Ath- Thabaqah adalah sahabat- sahabat Nabi SAW dan dua belas Thabaqah, kalau dipandang dari jurusan lain.
Di sini diterangkan bahwa dengan memandang dari sering berkumpul dengan Nabi SAW dan banyak meriwayatkan nabi, Sahabat- sahabat itu terdiri dari tiga Thabaqah, yaitu:

1.      Kaibarush- Shahabah : Artinya sahabat- sahabat yang besar, yaitu sahabat- sahabat yang banyak berkumpul dengan Nabi SAW dan banyak meriwayatkan Hadits dari beliau, seperti:
Ø  Hanzhalah bin Abi ‘Amir al- Anshari
Ø  Abu Aiyyub
Ø  Ubai bin Ka’b
Kalau seorang disebut Shahabi Kabir.

2.      Ausatush Sahabat, artinya sahabat- sahabat yang pertengahan. Yakni sahabat-  sahabat yang tidak begitu sering berkumpul dengan Nabi SAW dan tidak banyak meriwayatkan dari beliau.
Seorang  yang tidak banyak berkumpul dan meriwayatkan hadits disebut shahabi Shagir.

b.          Jalan mengenal Sahabat
Buat menetapkan siapa yang masuk dalam golongan sahabat Nabi SAW, Ada beberapa macam jalan yaitu:
1.      Dengan jalan khabar mutawatir, seperti Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, Ali, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan lainnya.
Kita tetapkan mereka semua sahabat dengan jalan kabar mutawatir yang sampai kepada kita.
2.      Dengan jalan tersiar masyhur, seperti ‘Ukasyah bin Mihshan, Dlimam bin Tsa’labah dan lainnya.
Kita kenal mereka sebagai sahabat nabi SAW dengan jalan khabar masyhur dan tersiar.
3.      Dengan jalan disaksikan oleh seorang shahabi yang sudah terkenal, seperti Hammamah ini sebagai sahabat, dari persaksian Abi Musa al- Asy’ari, seorang sahabat yang sudah terkenal.
4.      Dari omongan salah seorang Tabi’i yang kepercayaan, seperti ‘Amr bin Nu’aiman al- Anshari. Kita kenal ‘Amr sebagai sahabat Nabi SAW dari omongan ‘Abdurrahman bin Abi Laila, seorang Tabi’i yang sangat kepercayaan.

b. Sifat Sahabat
Kalau kita melihat pujian Nabi Saw kepada sahabat- sahabatnya, begitu juga pujian Allah di beberapa tempat dalam Qur’an, maka tidak boleh tidak kita mesti tetapkan, bahwa sahabat- sahabat semua bersifat ‘adil dalam meriwayatkan hadits, yakni mereka tidak khianat dan tidak berdusta dalam menyampaikan sabda-  sabda dan perjalanan Nabi Saw. Begitu juga khabaran- khabaran yang lain. Tetapi oleh karena mereka itu manusia seperti kita, maka terkadang ada kekeliruan dan kesalahan dalam menyampaikan Hadits atau riwayat.
Pendeknya : Diri sahabat- sahabat Nabi tidak perlu kita periksa, hanya perlu kita periksa Hadits yang mereka riwayatkan/ ceritakan : Adakah yang keliru atau tidak. Cara memeriksanya adalah dengan membanding- bandingkan atau mencocokkan dengan lain- lain dalil atau keterangan.
Sementara itu, sejumlah sahabat yang beriman pertama kali kepada Nabi Muhammad saw. terdiri atas berbagai kalangan,yaitu:
1.      Kalangan wanita adalah Khadijah binti Khuwailid
2.      Kalangan orang tua adalah Waraqah binNufail, anak paman Khadijah
3.      Kalangan kaum pria adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq
4.      Kalangan mantan budak adalah Bilal bin Rabah
5.      Kalangan Persia adalah Salman Al-Farisi.[4]



C.  Tabi’in


Tabi’in artinya orang yang mengikuti. Buat seorang disebut Tabi’i. Tabi’in yang dikehendaki dalam ilmu Hadits, adalah orang orang Islam yang bertemu dengan sahabat- sahabat Nabi SAW dan mati dalam keadaan beragama islam.

Dengan perkataan lain, Tabi’in adalah pengikut- pengikut sahabat yang beragama islam sampai matinya. Tabi’in tidak sezaman nabi SAW. Jumlah tabi’in tidak terhitung karena setiap orang muslim yang bertemu dengan seorang sahabat disebut tabi’in. para ulama berbeda dalam membagi thabaqat tabi’in, tergantung dari segi tinjauan yang mereka pakai. Imam muslim membaginya mejnadi 3 thabaqat,  ibnu sa’ad membaginya menjadi 4 thabaqat, dan al-hakim membaginya menjadi 15 thabaqat yang pertama adalah orang yang bertemu 10 orang sahabat yang digembirakan dengan surga.
Para ulama sepakat bahwa akhir masa tabi’in pada tahun 150 H dan akhir masa tabi’ tabi’in pada tahun 220 H. Adapun tabi’in terakhir yang bertemu dengan Abu Ath-thufail, Amr bin watsilah di mekah adalah Khalaf bin khalifah (w. 181 H).

a Sebagaimana sahabat, Tabi’in pun dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:

1.   Kibarut   Tabi’in   artiny Tabi’in   yan besar,   yait Tabi’in   yan banyak

Me5riwayatkan Hadits dari sahabat, seperti

➢   Basyir bin Nahik as- Sadusi[5]
➢   Humaid bin Hilal al- Adwi
➢   Zaid bin Wahb Abu Sulaiman al- Kufi
➢   Rib’i bin Hirasy[6]
➢   Said bin al- Musaiyyab
➢   Abul- Aswad ad- Dili[7]

Untuk seorang disebut Tabi’i al- Kabir



2.   Ausathut  Tabi’in  artinya  Tabi’in  pertengahan  yakni  tabi’in  yang  tidak  begitu sering bergaul  dengasahabat  dan  tidak  begitu  banyak  menerima hadits  dari mereka, seperti:
➢   Muhammad bin Ibrahim at- Taimi
➢   Kuraib, hamba Ibnu Abbas


Untuk seorang disebut Tabi’i Wasath.


3.      Shigharut Tabi’in artinya Tabi’in yang kecil, yakni Tabi’in yang sedikit sekali berkumpul dengan sahabat dan sedikit pula meriwayatkan Hadits dari mereka, seperti:
Ø  Manshur bin al- Mu’tamir al- Kufi
Ø  Tubah bin Abil- Asad al- Anbari
Ø  Al- Ja’d bin Abdurrahman
Ø  Ashim bin Sulaiman al- Ahwal
Ø  Hisyam bin ‘Urwah bin az- Zubair
Ø  Ma’ruf bin Khurrabudz al- Makki
Untuk seorang dikatakan Tabi’i Shaghir

Dalam kitab Ushulul Hadits ‘Ulumuhu wa Mushtolahuhu karya Dr. Ajaj Al-Khatib dikatakan bahwa ada bebrappa Afdholul Tabiin yaitu :
Dari Ahlu Madinah : Sa’id bin masib (15-94 H)
Dari Ahlu Kuffah : ’Alqomah bin Qois (28-62 H), Aswad bin yazid  (75 H), Ilyas al qorni ( 38 H)
Dari Ahlu Basrah : Hasan Al-basri  (21-110 H)
Dari Ahlu Makkah : “atho bin abi rabah (27-114 H)

a.       Sifat Tabi’in
Di antara Tabi’in itu, ada orang yang bersifat kepercayaan, dan ada yang tidak kepercayaan, atau lemah. Oleh karena itu , tiap- tiap tabi’i yang terdapat dalam sanad,  harus kita periksa terlebih dahulu sifat- sifatnya.

Tabii’n yang lemah:

1.   Khalid bin Urfuthah

2.   Khumail bin Abdurrahman

3.   Ziad bin Umayyah

4.   Sa’d bin Sa’id

5.   Sa’id bin Zaum

6.   Samurah bin Sahm

7.   ‘Abdullah bin Zuhal

8.   ‘Abdullah bin Mu’an



Menurut Al-Hakim, thabaqat al-tabi’in berakhir (sebagaimana yang di kutip oleh Shubhi Al-Shalih ) adalah mereka yang bertemu dengan beberapa sahabat yang wafat terakhir, yaitu Abu Thufail di Mekah, Saib di Madinah, Abu Umamah di Syam, Ubaidillah bin Abi Aufa di Kufah, dan Anas bin Malik di Bashrah. Masa tabi’in berakhir pada tahun 181 Hijriah, yaitu ketika wafatnya Khalaf bin Khalifah. Ia bertemu dengan Abu Thufail Amir bin Watsilah, sahabat terakhir di Mekah.[8]



D.  Atba’ut Tabi’in


Atba artinya orang- orang yang mengikuti Kalau seorang disebut taba atau tabi’. Atba’ut Tabi’in adalah orang yang mengikuti Tabi’in atau dinamakan pengikut- pengikut Tabi’in. Atba’ut Tabi’in juga berthabaqah sebagaimana sahabat dan Tabi’in. Atba’ut Tabi’in tidak sezaman dengan sahabat, mereka hanya bertemu Tabi’in. Tiap- tiap rawi dari At- ba’ut tabiin mesti diperiksa sifatnya untuk menetapkan shah atau tidaknya sesuatu hadits yang ia ceritakan, karena diantara At- Ba’ut Tabi’in itu, ada yang kepercayaan, ada yang lemah dan ada yang tidak boleh dipercayai.

Nama- Nama Atba’ut Tabi’in
1.    Hamzah bin Habib, seorang Imam dari ahli- ahli qiraat (membaca Quran), ( Luqathud durar 55)
2.    Amr bin Syu’aib, seorang kepercayaan ( Quratul Aini 19)
3.    Sufyan at- Tamar, salah seorang atba’ut tabi’in besar, lagi kepercayaan ( Fat-hul Bari 3:165)
4.    Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin al- Husain, seorang imam kepercayaan ( Al- Is-af)
5.    Sa’dan bin Sa’id, seorang kepercayaan( Taujihun- Nazhar 166)
6.    Muhammad bin Abil- Jahm ( Tajrid Asma’ Sahabat 2:60


E.     Al-Mukhadlramin
Al-Mukhadlramun ( Al-Mukhadlramin ) artinya : orang-orang yang hidup separuh umur dimasa jahiliyah, dan separuh dimasa sesudah timbul agama islam.
Menurut istilah ahli hadits, yang dikatakan Mukhadlramin itu ialah:
“Orang-orang yang hidup di zaman jahiliyah dan di zaman Nabi saw., dan masuk islam, tetapi tidak pernah melihat Nabi atau melihat Nabi sebelum ada islam”.[9]
Untuk seorang dikatakan Muhadlram.
Mukhadlram itu, ada 2 golongan :
1.      Ada yang masuk islam ketika Nabi saw. masih hidup.
2.      Ada yang masuk islam sesudah Nabi saw. wafat.
Berikut ini,  beberapa orang Mukhadlramin dari dua-dua golongan:[10]
Orang yang  masuk islam sebelum nabi wafat :
1)      Zaid bin Wahb
2)      Qais bin Abi Hazim
3)      Abu Muslim al-Khaulani                         
4)      Abu ‘Abdillah adl-Dliba’i                  
5)      Suwaid in Ghaflah
6)      ‘Amr bin Maimun al-Adzi
7)      Harim bin Quthbah
Masuk islam setelah nabi waafat :
1. Jubair bin Nufail
2. Badr bin ‘Amir al-Hadzali
3. Laila binti al-Judi                              
4. Al-Harits bin ‘Abd                            
5. Nu’aim al-Hibr
6. Abul-‘Aliah ar-Riyahi
7. Abu Muslim al-Jalili
Keterangan :
1.      Mukhadrlamin itu tidak termasuk dalam golongan sahabat tetapi masuk dalam thabaqah Tabi’in karena:
a.       Mereka tidak pernah melihat Nabi saw.
b.      Ada juga yang pernah lihat Nabi saw., sebelum Islam, tetapi sesudah beragama Islam tidak pernah melihat Rasulullah saw. sedang sahabt-sahabat diwaktu mereka beragama Islam ada melihat dan bertemu Nabi saw.
2.      Karena mereka itu Tabi’in ,maka riwayat mereka yang langsung kepada Nabi saw. dianggap Mursal, yakni tidak bersambung.
Umpamanya : Zaid bin Wahb, seorang Mukhadlram, berkata : Telah bersabda Rasulullah saw......; maka di waktu ini, riwayat Zaid itu tidak dikatakan muttashil, karena ia tidak bertemu dengan Nabi saw.




BAB III
PENUTUP
                                                                                    

A.    Kesimpulan
Ø  Thabaqat adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru.  Jadi para guru nya sebagian periwayat juga para guru nya sebagian perawi yang lain.
Ø  Ash- Shahabah itu ialah sahabat- sahabat nabi. Kalau seorang disebut Shahabi.
Ø  Tabi’in artinya orang yang mengikuti. Buat seorang disebut Tabi’i. Tabi’in yang dikehendaki dalam ilmu Hadits, adalah orang – orang Islam yang bertemu dengan sahabat- sahabat Nabi SAW dan mati dalam keadaan beragama islam.
Ø  Atba’ut Tabi’in adalah orang yang mengikuti Tabi’in atau dinamakan pengikut-pengikut Tabi’in.
Ø  Mukhadlramin adalah “Orang-orang yang hidup di zaman jahiliyah dan di zaman Nabi saw., dan masuk islam, tetapi tidak pernah melihat Nabi atau melihat Nabi sebelum ada islam.








DAFTAR PUSTAKA



Dr . Ajaj Al-Khatib.1975. Ushulul Hadits ‘Ulumuhu wa Mustholahuhu Damaskus ; Daarul Fikr
Qadir Hasan, A. 2007. Ilmu Mushthalah Hadits. Bandung: CV Penerbit Diponegoro
Majid Khon, Abdul. 2013. Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH
Majid Khon, Abdul.Takhrij Dan Metode Memahami Hadits. Jakarta: AMZAH




[1] Majid Khon, Abdul. 2013. Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH hlm. 120.

[2] Dr.Ajaj Al-Khatib. Ushulul hadits ulumuhu wa mushtolahuhu. hal 409
[3] Qadir Hasan, A. 2007. Ilmu Mushthalah Hadits. Bandung: CV Penerbit Diponegoro hlm. 397.

[4] Shubhi Al-Shalih, ‘Uhum Al-Hadits wa Mushtalatuh, cet. Ke-5, (Beirut: Dar Ilm li Al-Malayin,1969, hlm.354.

[5] Had-yus-Sarie.
[6] Fat-hul-Barie 1:143.
[7] Fat-hul-Barie 3:149.
[8] Shubhi Al-shalih, ‘Ulum Al-Hadits wa Mushthalatuh, hlm. 357.
[9] Ushulul Hadits ‘Ulumuhu wa Mushtolahuhu. hal.411
[10] Luqathuddurar 103, Fat-hul-Bari 1:243, al-Ishabah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar