BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Thabaqat dalam periwayatan sangatlah
pentinng dalam sebuah hadits. Karena banyaknya hadits palsu yang ada dimuka
bumi ini, maka dalam proses penelitian sebuah hadits thobaqoh adalah hal yang
sangat penting, demi mengetahui kualitas para perawi yang meriwayatkan dalam
hal apakah ia pernah bertemu dengan orang
yang meriwaytakann sebelumnya, apakah masihh satu zaman atau tidak,.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian Thabaqat ?
2. Bagaimanakah
tingkatan perawi hadits pada masa Sahabat ?
3. Bagaimanakah
tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’in ?
4. Bagaimanakah
tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’tabi’in ?
5. Bagaimanakah
tingkatan perawi hadits pada masa Mukhadram ?
C.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengertian Thabaqat
2. Untuk
mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Sahabat
3. Untuk
mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’in
4. Untuk
mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Tabi’tabi’in
5. Untuk
mengetahui tingkatan perawi hadits pada masa Mukhadram
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Thabaqot
Dalam bahasa Thabaqat diartikan القومالمتشابهون: “ kaum yang serupa atau sebaya”.
Sedangkan
menurut istilah adalah :
قَوْمٌتَقارَبُوْافىالسِّنِّوالإسنَادأوفىالإسنَادفقط
“ Kaum yang berdekatan atau
sebaya dalam usia
dan dalam isnad atau
dalam isnad saja”.
Thabaqat adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau
satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja.
Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan
berdekatan dalam berguru. Jadi para guru nya sebagian periwayat juga para guru nya
sebagian perawi yang lain. Para ulama membuat
ta’rif Ilmu Thabaqat, ialah :
علميبحثفيهعنكلجماعةتشتركفيأمرواحد
“ Suatu
ilmu
pengetahuan yang dalam pokok pembahasannya diarahkan kepada kelompok orang-orang yang berserikat
dalam satu alat pengikat yang sama”.
Dari segi bahasa, thabaqot
diartikan kaum yang serupa atau sebaya. Menurut istilah, kaum yang berdekatan
atau sebaya dalam usia dan ishnad / dalam ishnad saja. Thabaqot adalah kelompok
beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam
periwayatan atau ishnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud
berdekatan dalam ishnad satu perguruan atau satu guru, atau diartikan
berdekatan dalam berguru. Jadi para gurunya sebagian periwayat juga
para gurunya sebagian perawi lain. Misalnya thabaqot sahabat, thabaqot
thabi’in, thabaqot tabi’it tabi’in dan seterusnya.[1]
B. Ash- Shahabah
Ash- Shahabah itu ialah sahabat- sahabat nabi. Kalau seorang disebut Shahabi. Tentang
menetapkan siapa- siapa yang dikatakan sahabat itu,ada macam- macam pendapat ulama, tetapi yang
agak lebih cocok adalah pendapat Imam Ibnu Hajar, yakni: “ Sahabat itu ialah orang yang bertemu
Nabi SAW, beriman kepadanya
serta
meninggal
dalam keadaan beragama Islam.”
Menurut pendapat yang paling mashur adalah pendapat dari
Al-Hakim,yaitu :
1. Hidup pada awal islam di Makkah dan masa khalifah
2. Islam sebelum ahlu makkah di darr an-nadwah
3. orang yang berhijrah ke habsyah
4. orang yang ikut perjanjian aqobah awal
5. orang yang ikut perjanjian aqobah kedua dan kebanyakan
dari anshor
6. awal muhajir yang sholat dengan nabi sebelum masuk
madinah
7. orang yang ikut perang badar
8. ahlu bai’ah di hudaibiyah
9. orang yang hijrah antara badar dan hudaibiyah
10. orang yang hijrah hudaibiyah dan fathul makkah,
seperti khalid bin walid, amr bin ash, dan abi hurairah.
11. wanita muslim di fathul makkah
12. anak kecil, bayi yang melihat nabi di fathul makkah,
haji awad’ dan lain-lain.[2]
Kita perlu tahu siapa saja yang termasuk dalam golongan sahabat Nabi SAW ; Karena ada
banyak
rawi yang dikatakan Sahabat, padahal
mereka sebenarnya bukan sahabat, seperti:
1. Shal bin Haritsah
Al- Anshari : Ada orang yang menganggap dia sebagai sahabat tetapi kata
Ibnu
Mandah, “ Tidak sah (keterangan yang menetapkan ia menjadi) sahabat; dan
bilangannya menjadi seorang Tabi’in
2. Yazid bin Na’amah: Kata ‘Askari , “salah seorang yang mengatakan ia sahabat”, sebenarnya ia seorang Tabi’in.
3. Sa’ad bin Mas’ud al- Kindi: Ada orang menganggap
ia
sahabat, tetapi tidak.
4. ‘Abdullah bin Nasikh
al-
Hadlarami : Ada yang dimasukkan
golongan sahabat,
padahal ia bukan sahabat.
Dan
ada pula beberapa rawi yang diperselisihkan ‘Ulama- ulama tentang mereka
menjadi sahabat Nabi SAW, seperti:
1.
Atha’ bin
Ibrahim
2.
Amr bin
Salimah
3.
‘Abdullah
Ash- Shunabihi
4.
Yasdad al-
Farisi
5.
Tamam bin
‘Abbas
6.
Tsabit bin
ash- Shamil
7.
‘Amr bin
Sufyan
8.
Hakim bin
Mu’awiyah
9.
Khalid bin
Zaid bin Haritsah
10. Syaibah bin Abdirrahman[3]
a.
Thabaqah
Sahabat
Sebagaimana yang sudah diterangkan di atas Ath-
Thabaqah adalah sahabat- sahabat Nabi SAW dan dua belas Thabaqah, kalau
dipandang dari jurusan lain.
Di sini diterangkan bahwa dengan memandang dari sering
berkumpul dengan Nabi SAW dan banyak meriwayatkan nabi, Sahabat- sahabat itu
terdiri dari tiga Thabaqah, yaitu:
1.
Kaibarush-
Shahabah : Artinya sahabat- sahabat yang besar, yaitu sahabat- sahabat yang
banyak berkumpul dengan Nabi SAW dan banyak meriwayatkan Hadits dari beliau,
seperti:
Ø
Hanzhalah bin
Abi ‘Amir al- Anshari
Ø
Abu Aiyyub
Ø
Ubai bin Ka’b
Kalau seorang disebut Shahabi
Kabir.
2.
Ausatush
Sahabat, artinya sahabat- sahabat yang pertengahan. Yakni sahabat- sahabat yang tidak begitu sering berkumpul
dengan Nabi SAW dan tidak banyak meriwayatkan dari beliau.
Seorang yang tidak banyak berkumpul dan meriwayatkan
hadits disebut shahabi Shagir.
b.
Jalan mengenal Sahabat
Buat menetapkan siapa yang masuk dalam golongan sahabat
Nabi SAW, Ada beberapa macam jalan yaitu:
1.
Dengan jalan
khabar mutawatir, seperti Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, Ali, Sa’d bin Abi Waqqash,
Sa’id bin Zaid, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan lainnya.
Kita
tetapkan mereka semua sahabat dengan jalan kabar mutawatir yang sampai kepada
kita.
2.
Dengan jalan
tersiar masyhur, seperti ‘Ukasyah bin Mihshan, Dlimam bin Tsa’labah dan
lainnya.
Kita
kenal mereka sebagai sahabat nabi SAW dengan jalan khabar masyhur dan tersiar.
3.
Dengan jalan
disaksikan oleh seorang shahabi yang sudah terkenal, seperti Hammamah ini
sebagai sahabat, dari persaksian Abi Musa al- Asy’ari, seorang sahabat yang
sudah terkenal.
4.
Dari omongan
salah seorang Tabi’i yang kepercayaan, seperti ‘Amr bin Nu’aiman al- Anshari.
Kita kenal ‘Amr sebagai sahabat Nabi SAW dari omongan ‘Abdurrahman bin Abi
Laila, seorang Tabi’i yang sangat kepercayaan.
b. Sifat Sahabat
Kalau kita melihat pujian Nabi Saw kepada sahabat-
sahabatnya, begitu juga pujian Allah di beberapa tempat dalam Qur’an, maka
tidak boleh tidak kita mesti tetapkan, bahwa sahabat- sahabat semua bersifat
‘adil dalam meriwayatkan hadits, yakni mereka tidak khianat dan tidak berdusta
dalam menyampaikan sabda- sabda dan
perjalanan Nabi Saw. Begitu juga khabaran- khabaran yang
lain. Tetapi oleh karena mereka itu manusia seperti kita, maka terkadang ada
kekeliruan dan kesalahan dalam menyampaikan Hadits atau riwayat.
Pendeknya : Diri sahabat- sahabat Nabi tidak perlu
kita periksa, hanya perlu kita periksa Hadits yang mereka riwayatkan/ ceritakan
: Adakah yang keliru atau tidak. Cara memeriksanya adalah dengan
membanding- bandingkan atau mencocokkan dengan lain- lain dalil atau
keterangan.
Sementara itu, sejumlah sahabat yang beriman
pertama kali kepada Nabi Muhammad saw. terdiri atas berbagai kalangan,yaitu:
1.
Kalangan
wanita adalah Khadijah binti Khuwailid
2.
Kalangan
orang tua adalah Waraqah binNufail, anak paman Khadijah
3.
Kalangan
kaum pria adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq
4.
Kalangan
mantan budak adalah Bilal bin Rabah
5.
Kalangan
Persia adalah Salman Al-Farisi.[4]
C. Tabi’in
Tabi’in artinya orang yang
mengikuti. Buat seorang
disebut Tabi’i. Tabi’in yang
dikehendaki dalam ilmu Hadits, adalah orang – orang
Islam yang bertemu
dengan sahabat-
sahabat Nabi
SAW
dan mati dalam keadaan beragama islam.
Dengan perkataan lain, Tabi’in adalah pengikut-
pengikut sahabat yang beragama islam sampai matinya. Tabi’in tidak sezaman nabi
SAW. Jumlah tabi’in tidak terhitung karena setiap orang muslim yang bertemu
dengan seorang sahabat disebut tabi’in. para ulama berbeda dalam membagi
thabaqat tabi’in, tergantung dari segi tinjauan yang mereka pakai. Imam muslim
membaginya mejnadi 3 thabaqat, ibnu
sa’ad membaginya menjadi 4 thabaqat, dan al-hakim membaginya menjadi 15
thabaqat yang pertama adalah orang yang bertemu 10 orang sahabat yang
digembirakan dengan surga.
Para ulama sepakat bahwa
akhir masa tabi’in pada tahun 150 H dan akhir masa tabi’
tabi’in pada tahun 220 H. Adapun tabi’in
terakhir yang bertemu dengan Abu Ath-thufail, Amr bin
watsilah di mekah adalah Khalaf bin khalifah (w.
181 H).
a. Sebagaimana sahabat, Tabi’in pun dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Kibarut Tabi’in artinya Tabi’in yang besar, yaitu Tabi’in yang banyak
Me5riwayatkan Hadits
dari
sahabat, seperti
➢ Humaid bin Hilal al- ‘Adwi
➢ Zaid bin
Wahb
Abu Sulaiman al- Kufi
➢ Rib’i bin Hirasy[6]
➢ Said bin
al- Musaiyyab
➢ Abul- Aswad ad- Dili[7]
Untuk seorang disebut Tabi’i al- Kabir
2. Ausathut Tabi’in
artinya Tabi’in
pertengahan yakni tabi’in yang tidak begitu
sering bergaul
dengan sahabat dan
tidak begitu
banyak menerima hadits dari
mereka, seperti:
➢ Muhammad bin Ibrahim at- Taimi
➢ Kuraib,
hamba Ibnu ‘Abbas
Untuk seorang disebut Tabi’i Wasath.
3.
Shigharut
Tabi’in artinya Tabi’in yang kecil, yakni Tabi’in yang sedikit sekali berkumpul
dengan sahabat dan sedikit pula meriwayatkan Hadits dari mereka, seperti:
Ø
Manshur bin
al- Mu’tamir al- Kufi
Ø
Tubah bin
Abil- Asad al- Anbari
Ø
Al- Ja’d bin
Abdurrahman
Ø
Ashim bin
Sulaiman al- Ahwal
Ø
Hisyam bin
‘Urwah bin az- Zubair
Ø
Ma’ruf bin
Khurrabudz al- Makki
Untuk seorang dikatakan Tabi’i Shaghir
Dalam kitab Ushulul Hadits ‘Ulumuhu wa Mushtolahuhu karya Dr.
Ajaj Al-Khatib dikatakan bahwa ada bebrappa Afdholul Tabiin yaitu :
Dari Ahlu Madinah : Sa’id bin masib (15-94 H)
Dari Ahlu Kuffah : ’Alqomah bin Qois (28-62 H), Aswad bin yazid (75 H), Ilyas al qorni ( 38 H)
Dari Ahlu Basrah : Hasan Al-basri
(21-110 H)
Dari Ahlu Makkah : “atho bin abi rabah (27-114 H)
a. Sifat Tabi’in
Di antara Tabi’in itu, ada orang yang bersifat kepercayaan, dan ada yang
tidak kepercayaan, atau lemah. Oleh karena itu , tiap- tiap tabi’i yang
terdapat dalam sanad, harus kita periksa
terlebih dahulu sifat- sifatnya.
Tabii’n yang lemah:
1. Khalid
bin ‘Urfuthah
2. Khumail bin
Abdurrahman
3. Ziad bin Umayyah
4. Sa’d
bin Sa’id
5. Sa’id
bin Zaum
6. Samurah bin Sahm
7. ‘Abdullah bin Zuhal
8. ‘Abdullah bin Mu’an
Menurut Al-Hakim, thabaqat al-tabi’in berakhir (sebagaimana yang di kutip
oleh Shubhi Al-Shalih ) adalah mereka yang bertemu dengan beberapa sahabat yang
wafat terakhir, yaitu Abu Thufail di Mekah, Saib di Madinah, Abu Umamah di
Syam, Ubaidillah bin Abi Aufa di Kufah, dan Anas bin Malik di Bashrah. Masa
tabi’in berakhir pada tahun 181 Hijriah, yaitu ketika wafatnya Khalaf bin
Khalifah. Ia bertemu dengan Abu Thufail Amir bin Watsilah, sahabat terakhir di
Mekah.[8]
D. Atba’ut Tabi’in
Atba’ artinya orang- orang yang mengikuti Kalau seorang
disebut taba’ atau tabi’. Atba’ut Tabi’in adalah orang yang mengikuti Tabi’in atau dinamakan pengikut- pengikut Tabi’in. Atba’ut Tabi’in juga berthabaqah sebagaimana
sahabat dan Tabi’in. Atba’ut Tabi’in tidak sezaman dengan sahabat, mereka
hanya bertemu Tabi’in.
Tiap- tiap rawi dari At-
ba’ut tabiin mesti diperiksa sifatnya untuk menetapkan shah atau tidaknya sesuatu hadits yang ia ceritakan, karena diantara At- Ba’ut Tabi’in itu, ada yang
kepercayaan, ada yang lemah dan
ada
yang tidak boleh dipercayai.
Nama- Nama Atba’ut Tabi’in
1.
Hamzah bin
Habib, seorang Imam dari ahli- ahli qiraat (membaca Quran), ( Luqathud durar 55)
2.
Amr bin
Syu’aib, seorang kepercayaan ( Quratul Aini 19)
3.
Sufyan at-
Tamar, salah seorang atba’ut tabi’in besar, lagi kepercayaan ( Fat-hul Bari
3:165)
4.
Ja’far bin
Muhammad bin ‘Ali bin al- Husain, seorang imam kepercayaan ( Al- Is-af)
5.
Sa’dan bin
Sa’id, seorang kepercayaan( Taujihun- Nazhar 166)
6.
Muhammad bin
Abil- Jahm ( Tajrid Asma’ Sahabat 2:60
E.
Al-Mukhadlramin
Al-Mukhadlramun
( Al-Mukhadlramin ) artinya : orang-orang yang hidup separuh umur dimasa
jahiliyah, dan separuh dimasa sesudah timbul agama islam.
Menurut istilah ahli hadits, yang dikatakan Mukhadlramin itu ialah:
“Orang-orang yang hidup di zaman jahiliyah dan di zaman Nabi saw., dan
masuk islam, tetapi tidak pernah melihat Nabi atau melihat Nabi sebelum ada
islam”.[9]
Untuk seorang dikatakan Muhadlram.
Mukhadlram itu, ada 2 golongan :
1.
Ada yang
masuk islam ketika Nabi saw. masih hidup.
2.
Ada yang
masuk islam sesudah Nabi saw. wafat.
Berikut ini, beberapa orang Mukhadlramin dari dua-dua
golongan:[10]
Orang yang masuk islam sebelum nabi wafat :
1)
Zaid bin
Wahb
2)
Qais bin
Abi Hazim
3)
Abu
Muslim al-Khaulani
4)
Abu
‘Abdillah adl-Dliba’i
5)
Suwaid in
Ghaflah
6)
‘Amr bin
Maimun al-Adzi
7)
Harim bin
Quthbah
Masuk islam setelah nabi waafat :
1. Jubair bin
Nufail
2. Badr bin
‘Amir al-Hadzali
3. Laila binti
al-Judi
4. Al-Harits bin
‘Abd
5. Nu’aim
al-Hibr
6. Abul-‘Aliah
ar-Riyahi
7. Abu Muslim
al-Jalili
Keterangan :
1.
Mukhadrlamin
itu tidak termasuk dalam golongan sahabat tetapi masuk dalam thabaqah Tabi’in
karena:
a.
Mereka
tidak pernah melihat Nabi saw.
b.
Ada juga
yang pernah lihat Nabi saw., sebelum Islam, tetapi sesudah beragama Islam tidak
pernah melihat Rasulullah saw. sedang sahabt-sahabat diwaktu mereka beragama
Islam ada melihat dan bertemu Nabi saw.
2.
Karena
mereka itu Tabi’in ,maka riwayat mereka yang langsung kepada Nabi saw. dianggap
Mursal, yakni tidak bersambung.
Umpamanya : Zaid bin Wahb,
seorang Mukhadlram, berkata : Telah bersabda Rasulullah saw......; maka di
waktu ini, riwayat Zaid itu tidak dikatakan muttashil, karena ia tidak bertemu
dengan Nabi saw.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ø
Thabaqat
adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa
dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja.
Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau
diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi para guru nya sebagian
periwayat juga para guru nya sebagian perawi yang lain.
Ø
Ash- Shahabah
itu ialah sahabat- sahabat nabi. Kalau seorang disebut Shahabi.
Ø
Tabi’in
artinya orang yang mengikuti. Buat seorang disebut Tabi’i. Tabi’in yang
dikehendaki dalam ilmu Hadits, adalah orang – orang Islam yang bertemu dengan
sahabat- sahabat Nabi SAW dan mati dalam keadaan beragama islam.
Ø
Atba’ut
Tabi’in adalah orang yang mengikuti Tabi’in atau dinamakan pengikut-pengikut Tabi’in.
Ø Mukhadlramin adalah “Orang-orang yang hidup di
zaman jahiliyah dan di zaman Nabi saw., dan masuk islam, tetapi tidak pernah
melihat Nabi atau melihat Nabi sebelum ada islam.
DAFTAR PUSTAKA
Dr . Ajaj
Al-Khatib.1975. Ushulul Hadits ‘Ulumuhu wa Mustholahuhu Damaskus ;
Daarul Fikr.
Qadir Hasan,
A. 2007. Ilmu Mushthalah Hadits.
Bandung:
CV Penerbit Diponegoro
Majid Khon, Abdul. 2013. Ulumul Hadis. Jakarta:
AMZAH
Majid Khon,
Abdul.Takhrij Dan Metode Memahami Hadits. Jakarta: AMZAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar