Sabtu, 13 April 2019

makalah Ulumul Hadits : Hadits ditinjau dari segi penuturnya

BAB II
PEMBAHASAN
A.   HADITS DI TINJAU DARI SUMBER PENUTURNYA
Pada bab ini akan dibahas macam-macam hadits yang di tinnjau dari sumber penuturnya atau orang ada dalam sanad. Hadits yang ditinjau pada kaali ini dibagi  menjadi 4 macam yaitu Hadits Qudsi, Hadits Marfu’, Hadits Mauquf, dan hadits maqtu’.
 Hadits Qudsi
Menurut bahasa, kata  Al-quds  nisbbat pada kata ( القدس  ) yang diartikan “suci”. Hadits ini dinamakan suci karena disandarkan pada Dzat Tuhan yang Mahasuci. Atau dinisbatkan pada Allah SWT.
Hadits Qudsi meskipun diartikan suci, tidak semuanya berkualitas shohih . ada yang kualitasnya hasan bahkan ada yang dhoif . tergantung pada persyarataan periwayatan yang dipenihunya, baik dari segi sanad, atau matan. Menurt istilah hadits Qudsi adalah :
ما نقل الينا عنن النبي صلى الله عليه وسلم مع ءسناده اياه االى ربه عزّ وجلّ                            
“ Sesuatu yang dipindahkan dari nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam serta penyandaranya kepada Allah ‘azza wa jalla “
Hadits qudsi ini, kabar yang di terima nabi Muhammad dari Allah melalaui mimpi, ataupun ilham, yang maknanya dari Allah tapi redaksi haditsnya dari nabi.
Jika dalam Al-quran Allah berfirman menggunakan kalimat
قال الله تعالىى
Tapi ciri-ciri dalam hadits qudsi menggunakan kalimat
قال رسول الله عليه وسلّم فيما يروي عن ربّه:


B.   Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Quran
a.       AL QURAN :
1.      Al- quran ialah mukjizat yang akan terjaga dari perubahan zaman, yang diturunkan secara mutawatir, dan lafadz sekaaligus maknanya berasal dari Allah.
2.      Orang yang mengartikan Al-quran menjadi mulya
3.      Orang yang menyentuh dan membacanya harus suci dari hadas kecil maupun besar
4.      Selalu dibac dalam sholat
5.      Orang yang  membacaa al quran akan diberi pahala 1 huruf 1 kebaikan
6.      Al-quran disusun atas juz, surah, dan ayat

a)      HADITS QUDSI
1.      Hadits qudsi ialah hadits yang disandarkan pada Allah, yang kalimat redaksinya dari nabi Muhammad tapi maknanya dari Allah SWT.
2.      Orang yang membaca hadits qudsi tidak akan mulya
3.      Orang yang membacanya tidak harus suci
4.      Tidak dibaca dalam sholat
5.      Tidak ada pahaala bagi yang membacanya
6.      Ada yang kualitasnya shohih, hasan dan dhoif

C.     Hadits Marfu’
1.      Pengertian Hadits Marfu’
Marfu’  merupakan isim maf’ul dari kata (رفع)   kata  menurut bahasa berarti “ yang diangkat” atau “ yang di tinggikan”
Sedangkan menurut kitab “Al-qowaa’idul asaasiyyah fii ‘ilmu mushtholihul hadits” hadits marfu’ ialah :
الحديث الذي أضيف إلى الني من القوول او فعل او التقرير سواء كان سنده متٌصلا ام لا
“Hadits yang disandarkan pada nabi muhammada Saw baik dari perkataan, perbuatan, atau ketetapan baik sanadnya itu bersambung taupun tidak”
a)      Contoh hadits Marfu’

·         Marfu’ Qouli ( ucapan )
Dari sahabat :Telah berkata Rasulullah SAW “ sesungguhhnya orang yang beriman itu terhadap sesamanyaa, sama dengan  keadaan batu tembok,, satu dengan yang lain saling mengikat. (HR. Al-Bukhori, Muslim, at-Tirmidzi. Dan an-Nasai)
·         Marfu’ Fil’li ( perbuatan )
Dari saahabat berkata :Bahwa nabi Muhammad SAW membetullkan shaf-shaf kami apabila kami kan sholat. Maka setelaah shaf itu lurus, barulah Nabi bertakbir.

·         Marfu’ Taqriri (ketetapan )
Dari sahabar berkata : Bahwa kami (para sahabat) sholat 2 rakaat setelah terbenamnya matahari ( sebelum shalat maghrib). Rasulullah melihat pekerjaan itu, beliau tidak menyuruh kami dan tidak mencegahnya.
·         Marfu’ Washfi ( sifat)
Dari sahabat berkata :Dan ada pada rasulullah SAW sebaik-baik nya ahlaq pada manusia

b)      Macam-macam Hadits Marfu’


·         Di-marfu’-kan secara tegas (sharih)
Pada bagian ini biasanya konteks hadits nya menggunakaan lafadz :
سمعت , حدٌثني , قال, حدٌث, رأيت, كان, فعلت

·         Di-Marfu’-kan secara hukum (Hukmi)
Maksudnya hadits tersebut dating nya darii sahabat, atpi sandaranya kepada Rasulullah, seperti :
a)      Perkataan seorang sahabat tentang suatu masalah yang tidak dapat dicapi dengan ijtihad, tsepertri perkataan tentang hal yang ghaib,, atau menerangkan pahala suatu amal.
b)      Apabila seorang sahabat membuat sesuatu pekerjaan yang tidak dapat  diperoleh dengan cara ijtihad, maka perbuataan itu dipandang hadits. Karena dipersepsikan bahwa para sahabt tidak mungkin melakukan perbuatan tanpa ada tuntunan dari nabi.
c)      Apabila ada sahabat yang meng-khabar-kan suatu berita dengan menggunakan ungkapaan bahwa diantara mereka (sahabat) ada yang mengajarkan begini dimasaa hidup Rasulullah. Pemebritaan iu dipandang Marfu’ , karena dipersepsikan bahwa Nabi meliht pekerjaan itu pada saat terjadi dan beliau tidak mencegah nya.
d)     Dan apabilaa seorang sahabt berkata :
من السنٌة كذا                                                                                              
Di antar sunnah begini.

Perkataan ini sudah dipandang sebagai hadits Marfu’ karena makna sunnah disini, adalah sunnah rasulullah.

C.     Hukum Hadits Marfu’
Hukum hadits Marfu’ bisa shohih, hasan maupun Dhaif

D.    HADITS MAUQUF
  Yang berarti berhenti.  الوقف  merupakan isimm maful dari kataموقف            
Dan menurut istilah adalah sesuatu yang disanggarkan pada sahabat baik berupa ucapan,perbuatan atau ketetapan.yang sanadnya bisa bersambung atau tidak hadist ini bisa dihukumi shahih,hasan,maupun dhaif.
1.      MACAM MACAM PEMBAGIAN HADIST MAUQUF
·         Mauquf dengan ucapan 
قال على بن ابي طالب : حدٌثوا الناس بما يعرفونو أتريدون انن يكذب الله ورسوله
·         Mauquf dengan perbuatan
قول لبخاريي : وأمٌ ابن عباس متيمم
·         Mauquf dengan ketetapan
كقول بعض التاببعين مثلا : فعلت كذا امام احد الصحابة ولم ينكر علي                               

HUKUM HADITS MAUQUF
            Sebagian ulama memasukan hadits mauquf kedalam golongan hadits Dhaif .  tapi ada segian hadits mauquf yang kedudukanya shahih, dan hasan. Hadits mauquf untuk bisa  dijadikan hujjah harus hadits lain yang menguatkanya. Karena ia hanya perkataan atau perbuatan sahabat dan itu merupakan pengamalan sunnah. Hadits Mauquf  Dinilai Marfu’
·         Jika perawi menggunakan kata
يرفع -  ينميه -  يبلغ به النبي  -  رواية
Misalnya :
حديث الاعراج عن ابي هريرة رواية: تقاتلون قوما صغار الاعين
“ hadits al-a’raj dari abu hurairah secara riwayat (dari nabi) : engkau perangi kaum yang kecil-kecil matanya (hina)” HR. Al-Bukhori


·         Perkataan sahabat
امرنا بكذا -  من السنة كذا – نهينا عن كذا
Misalnya perkataan sebagian sahabat :
من السنة اذا تزوج البكر على الثيب ااقام عندها سبعا
“ bilal diperintah menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat iqamat”
·          Sahabat melakukan atau berkata demikian dan melihat tidak ada bahaya dari hal tersebut, maka ada 2 kemungkinan :
a.       Jika disandarkan pada masa nabi maka dihukumi Marfu’
كنّا نعزل على عهد النبي والقراَن ينزل ولو كان شيئا ينهى عنه لنها عنه القرأن
Kami pernah azl’ pada masa rasulullah sedang masih turun, jikalau hal itu sesuatu yaang dilarang tentu al-quran melarang kami”
b.      Jika tidak disandarkan pada masa nabi, maka dihukumi Mauquf
كنا اذا صعدنا كبّرنا واذا ننززلنا سبحنا
“kami ketika naik membaca takbir dan ketika turun membaca tasbih”
·         Perkataan sahabat yang bukan diwilayah ijtihaad, dan tidak ada kaitanya dengan penjelasan gharib, misalnya :
a.       Pemberitaan yang telah lewat, seperti kejadian mahluq
b.      Pemebritaan hal-hal yang akan terjaddi, seperti perang, fitnah, hari kiamat
c.       Pemberitaan tentang pahala dan siksaa khusus bagi suatu perbuatan. Misalnya perkataan sahaabat : barang siapa yang melakukan begini akan mendapat pahala begini
·         Perbuatan sahabat yang bukan diwilayah ijtihad, seperti Ali binn abi thalib melakukan shala gerhana yang setiap rakaat lebih dari 2 ruku’
·         Penafsiran sahabbat yang berkaitan tentang nuzulnya suatu ayat.


E.     HADIS MAQTHU’


1.      Pengertian hadits Maqtu’
Maqthu’ artinya yang diputuskan atau yang terputus, yang dipotong atau yang terpotong.
Dalam pembicaraan ilmu hadis dikatakan bagi:
“perkataan, perbuatan atau taqrir yang disandarkan kepada tabi’i atau orang yang dibawahnya”.
Contoh perkataan
عن عبد الله بن سعيد بن ابي هند قا ل : قلت لسعيد بن المسيب : ان فلا نا اعطس والامام يخطب فشمته فلا نا . قال : مره فلايعودن. (الاثار)
 Artinya : dari abdillah bin sa’id bin abi hindin, ia berkata : aku pernah berkata kepada sa’id bin musayyib bahwasanya si fulaan bersin, padahal imam sedang berkhutbah, lalu orang lain ucapkan “yarhamukallah” (bolehkah yang demikian)? Jawab sa’id bin musayyib : “ perintahlah kepadanya, supaya jangan sekali-kali ia ulangi”. (Al-Atsar 33)
Sa’id bin musiyibi itu seorang tabi’i
Keterangan diatas berisi omongannya.
Contoh perbuatan
عن قتا دة قال : كان سعيد بن المسيب يصلي بعد العصرركعتين . (المحلي )
“dari Qatadah, ia berkata : adalah Said bin Musyaib pernah shalat 2 rakaat sesudah ashar”
2.      Kehujahan Maqthu’
Hadits Maqtu’ tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam hukum syara’ sekalipun Shahih, karena ia bukan datang dari nabi. Ia hanya perkataan atau perbuatan sebagian atau salah seorangf umat islam. Akan tetapi,jika disana ada bukti-bukti kuat yang menunjukan kemarfu’-annya, maka hukumnya marfu’ mursal. Misalnya perkataan sebagian periwayat ketika menyebut tabi’in ia katakan(yarfa’uhu)=ia marfu’kannya. Dalam ungkapan lain dapat dikatakan,perkataan tabi’in terkadang dipandang sebagai perkataan sahabat, apabila perkataan tersebut semata tidak dapat diperoleh melalui ijtihad, sebagaimana perkataan sahabat yang dipandang tidak dapat diijtihadakan juga dipandang sebagai perkataan nabi sendiri

3.      Kitab-kitab hadist mawquf dan maqthu
Diantara kitab kitab yang dipandang banyak hadist mawquf dan marfhu adalah sebagai berikut :
a.       Mushannaf abi syaybah
b.      Mushannaf abd ar-razzaq

c.       Tafsis  ibnu, ibnu hatim,dan ibnu al-mundzir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar