Sabtu, 13 April 2019

sejarah Tafsir Al-quran : Perbedaan Mushaf sahabat

SEJARAH PERBEDAAN DALAM MUSHAF SAHABAT
(ABDULLAH BIN ABBAS DAN ABU MUSA AL-ASY’ARI)

a.       MUSHAF ABDULLAH BIN ABBAS
Dalam peta perkembangan tafsir Al-Qur’an di kalangan kaum Muslimin, Ibnu Abbas yang bernama lengkap Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas menduduki posisi sangat terkemuka. Hal ini terlihat dari figurasi dirinya sebagai tarjuman Al-Quran (penafsir al-Qur’an terbaik), al-bahr (lautan, yakni berilmu sedalam lautan), dan habr al-ummah (intelektual umat). Kelahirannya diperkirakan pada masa ketika Bani Hasyim di blokade di al-Syi’b, beberapa tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah.
Nama Ibnu Abbas mulai menonjol setelah Khalifah Utsman mempercayakannya memimpin ibadah haji pada 35H, suatu tahun yang menentukan dalam perjalanan politik Ustman. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, ia ditunjuk sebagai gubernur Bashrah. Ibnu Abbas memperoleh kemasyhuran bukan karena aktivitasnya di panggung politik, tetapi karena pengetahuan agamanya yang luas, terutama dalam al-Qur’an. Dari kebesaran semacam ini, seseorang bisa menduga bahwa kodeksnya akan sama terkenal dengan mushaf sahabat-sahabat Nabi lainnya, seperti Ibnu Mas’ud atau Ubay. Tetapi kenyataannya sejarah menunjukkan hal berbeda, mushaf Ibnu Abbas terlihat tidak pernah menjadi panutan masyarakat tertentu, sekalipun sejumlah mushaf sekunder – seperti mushaf Ikrimah, Atha’, dan Sa’id Ibnu Jubair – dipandang meneruskan tradisi teksnya. Ketenaran dalam tafsir terjadi  pada tahap belakangan dalam karirnya, ketika ia berupaya memanfaatkan syair-syair pra-Islam untuk menjelaskan makna al-Qur’an dalam tradisi teks Utsmani. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kodeks al-Qur’annya dikumpulkan pada masa mudanya.
Salah satu karakteristik mushaf Ibnu Abbas adalah eksisnya dua surat ekstra, yaitu surat al-kahl dan surat al-hafd, yang ada di dalamnya, sebagaimana yang ada dalam mushaf Ubay dan Abu Musa. Dengan demikian, jumlah keseluruhan surat yang ada di dalam mushaf Ibnu Abbas adalah sebanyak 116 surat. Sekalipun demikian, kedua surat ekstra ini tidak muncul dalam daftar susunan surat mushafnya yang berbeda dari aransemen surat mushaf utsmani.
Mushaf Ibnu Abbas ini tidak berbeda jauh dengan mushaf Ibnu Mas’ud dan mushaf Ubay yang terdiri dari riwayat-riwayat tentang bacaan-bacaan yang memiliki corak dialek dan bacaan-bacaan yang memiliki corak tafsir.

·      Bacaan-bacaan Ibnu Abbas yang Bercorak Dialek
1.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 65: “Jaharah” dengan memfatahkan huruf “ha”.
2.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 108: “Kama silla” dengan kasrah.
3.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 158: “An yaththaffa bihima” dengan wazan “yafta’il”.
4.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 265: “Kamitsli jannnatin biribwatin” dengan mengkasrahkan huruf “ra”.
5.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 3: 81: “Ashri” dengan memfatahkan “hamzah”.
6.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S 4: 1: “Tasaluna bihi” dengan bacaan hamaz.
7.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 11: 42: “Wa nada nuhun ibnah” dengan mensukunkan huruf “ha”. Dialek ini adalah dialek suku Azd atau dialek suku Bani Kilab,Uqail, atau suku Thayyi.
8.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 31: 20: “Wa ashbagha ‘alaikum” dengan huruf “shad”.
9.      Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 40: 7: “Yahmiluna al-‘Ursy” dengan mendhammahkan huruf “’ain”.
10.  Ibnu Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S 78: 18 dan 19: “Ash-Shuhf al-ula shuhfu Ibrahim” dengan mensukunkan huruf “ha”. Ini adalah dialek suku Tamim.

Itulah beberapa riwayat tentang bacaan-bacaan Ibnu Abbas yang bercorak dialek. Sebagian besar di antaranya sesuai dengan mushaf utsmani. Akan tetapi, statusnya tetap dikategorikan sebagai bacaan yang syadz, karena status sanadnya lemah. Riwayat pertama menunjukkan corak dialek yang bunyi huruf keluar dari tenggorokan, yakni membaca “jaharah” dengan memfatahkan huruf “ha”. Riwayat kedua berkaitan dengan corak dialek yang mengharmonikan bunyi huruf-huruf lain. Riwayat ketiga merupakan corak dialek yang membaca dengan idgham/dengung. Dan demikian seterusnya. Pembaca al-Qur’an tidak akan mengalami kesulitan untuk mengetahui perbedaan dialek yang terdapat dalan riwayat-riwayat ini dengan dialek bacaan masyarakat umum.

·         Riwayat- riwayat tentang Bacaan- bacaan yang Bercorak Tafsir
1.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 2: 208: “Udkhulu fi-al-islami”.
2.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 2: 227: “Wa idza ‘adzamu -al- siraha”.
3.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 2: 23: “Liman arada –an yukammila – ar- radha’ah”.
4.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 2: 234: “Arba’ata asyhurin wa’asyra - layalia -.”
5.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 2: 238: “Wa ash-shalat al-wustha –wa shalat al-‘ashr -.” Ini adalah pendiktean Hafsah binti Umar.
6.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 3: 159: “Wa syawirhum –fi ba’dhi al – amr -.”
7.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 4: 160: “Harramna ‘alaihim thayyibat – kanat -  uhillat lahum” dengan menambahkan “kanat”.
8.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 11: 86: “-Taqiyyah - Allah khairun lakum” sebagai ganti dari “baqiyyah”.
9.      Ibnu Abbas membaca Q.S. 18: 80: “Waammaal- ghulamu – fakana kafiran – wa kana abawahu mukminaini.
10.  Ibnu Abbas membaca Q.S. 19: 24: “Fanadaha – malaikun – min tahtiha”.

Diriwayatkan, Ibnu Abbas berhenti ketika membaca ayat 5 dan 6 dari surat Thaha. Ia membaca ayat 5: “Ar-rahman ‘ala al’arsy”, lalu membaca ayat 6 : “Istawa lahu ma fi as-samawat”. Bacaan semacam ini telah menimbulkan polemik yang cukup rumit dalam bidang akidah antara sunni dan muktazilah. Kedua kelompok ini berselisih pendapat mengenai zat dan sifat-sifat Tuhan serta hubungan keduanya dengan hakikat dan majaz.
Kita juga menjumpai bacaan Ibnu Abbas yang sama dengan bacaan sejumlah ahli baca al-Qur’an yang lain yang bersumber dari Nabi SAW. Terkadang sanad bacaan ini muttashil alias tersambung, karena diriwayatkan oleh para perawi hadits dari berbagai jalur sanad. Riwayat ini juga diriwayatkab dari Ibnu Mas’ud, Ikrimah, ‘Atha bin Abi Rabah, ‘Atha bin Yasar, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Ali bin Hasan, dan Ibnu Abi ‘Ubaidah. Mereka membaca Q.S.  36: 38: “Wa asy-syams tajri la mustaqarra laha”. Boleh jadi, bacaan ini sesuai dengan fakta-fakta ilmu astronomi, yakni tentang peredaran matahari.
Yang jelas, tambahan-tambahan atau perubahan-perubahan yang terdapat dalam riwayat-riwayat bacaan Ibnu Abbas ini hanyalah penjelasan tentang maksud ayat. Tambahan penjelasan ini telah menentukan maksud ayat – paling tidak - menurut Ibnu Abbas.
Pada dasarnya, mushaf Ibnu Abbas ini sama saja dengan mushaf utsmani yang diriwayatkan secara mutawatir. Sedang riwayat-riwayat yang disebutkan di atas hanyalah penafsiran dari Ibnu Abbas.

a.       MUSHAF ABU MUSA AL-ASY’ARI
Abu Musa al-Asy’ari berasal dari Yaman, tergolong ke dalam kelompok orang yang masuk Islam pada masa awal. Dikabarkan bahwa ia juga turut berhijrah ke Abisnia dan baru kembali pada masa penaklukan Khaibar. Setelah itu, ia diberi posisi sebagai gubernur suatu distrik oleh Nabi. Pada tahun 17 hijriah, khalifah Umar mengangkatnya sebagai gubernur di Bashrah. Pada masa pemerintahan Utsman ia dicopot dari jabatan tersebut dan akhirnya diangkat kembali dalam jabatan yang sama di kota Kufah. Ketika Utsman terbunuh, penduduk kota Kufah menentang Ali bin Abi Thalib, yang memaksa Abu Musa melarikan diri dari kota itu. Ia juga terlihat terlibat dalam Perang Shiffin pada 37H antara Ali dan Mu’awiyah, sebagai arbitror untuk khalifah Ali, tetapi gagal memainkan perannya. Di sinilah akhir aktivitas Abu Musa dalam percaturan politik. Dikabarkan ia kembali ke Mekkah, lalu ke Kufah dan meninggal disana pada 42 atau 52H.
          Abu Musa sejak awalnya telah tertarik kepada pembacaan al-Qur’an. Dikabarkan bahwa suara bacaan al-Qur’annya sangat terkenal di masa Nabi. Mushaf al-Qur’annya barangkali mulai di kumpulkan pada masa Nabi, lalu diselesaikannya setelah itu. Ketika menjabat sebagai gubernur Bashrah, mushafnya – biasa disebut dan dirujuk dengan nama  Lubab al-Qutub – mulai diterima dan akhirnya dijadikan sebagai teks otoritatif penduduk kota tersebut. Beberapa pernyataan menarik dikemukakan dalam karya Ibnu Abi Dawud, Kitab al-Mashahif, yang memperkuat dugaan tentang independensi mushaf Abu Musa.
Pernyataan pertama, Yazid ibn Mu’awiyah mengisahkan bahwa pada suatu ketika di masa al-Wahid ibn Uqbah ia berada di masjid dan bergabung dalam suatu halaqah, yang juga dihadiri Hudzyafah  ibn al-Yaman (36H); kemudian terdengar seruan bahwa orang-orang yang mengikuti bacaan Abu Musa agar berkumpul di gerbang Kindah, dan yang membaca menurut bacaan Ibnu Mas’ud agar datang ke dekat rumah Abdullah. Ketika mendengar kedua kelompok itu berbeda dalam pembacaan surat 2:196, Khudzayfah naik pitam dan bersumpah bahwa seseorang harus membuat Khalifah Utsman mengambil tindakan terhadap hal tersebut.
Yang kedua – merupakan varian pernyataan pertama – adalah pernyataan Abu al-Sya’tsa’ tentang bagaimana Khudzayfah memprotes kedua bacaan di atas dan bermaksud mendatangi khalifah Utsman untuk memintanya menyatukan bacaan-bacaan yang berbeda itu, tetapi ia dimarahi oleh Abdullah hingga terdiam. Pernyataan lainnya adalah yang diberitakan dari Abdullah al-A’la ibn al-Hakam al-Kilabi bahwa ketika dia masuk rumah Abu Musa, datang seorang utusan ke Bashrah membawa salinan mushaf standar utsmani yang harus mereka ikuti. Abu Musa kemudian berkata bahwa bagian apapun dalam mushafnya yang bersifat tambahan bagi mushaf utsmani agar jangan dihilangkan, tetapi apabila ada sesuatu dalam mushaf utsmani yang tidak terdapat dalam mushafnya agar ditambahkan.
Dalam perjalanan sebelumnya, mushaf Abu Musa terlihat tenggelam dan memudar pengaruhnya dengan diterimanya mushaf utsmani sebagai mushaf otoritatif. Hal ini bisa dilihat pada kenyataan bahwa hanya sejumlah kecil varian bacaannya yang sampai ke tangan kita. Berbeda dari mushaf Ubay dan Ibny Mas’ud, tidak ada riwayat yang menuturkan tentang susunan surat di dalam mushafnya, selain riwayat bahwa dua surat ekstra yang ada dalam mushaf Ubay – yakni surat al-kahl dan surat al-hafd – terdapat dalam mushafnya. Demikian pula, diriwayatkan bahwa ayat sisipan dalam mushaf Ubay – yakni di antara ayat 24 dan 25 dalam surat 10, seperti telah disinggung diatas – biasa dibaca Abu Musa dalam suatu surat yang panjangnya menyerupai surat 9, tetapi yang diingatnya tinggal ayat itu, dan juga surat lainnya yang semisal musabbihat, namun yang bisa ia ingat dari surat tersebut hanyalah ayat yang mirip dengan 61:2. “Ayat-ayat” ini diriwayatkan di dalam hadits-hadits sebagai bagian al-Qur’an yang terhapus; dan hadits-hadits tentang penghapusan ini tidak dapat dipercayai sama sekali. Tempaknya kedua ayat yang dipermasalahkan di sini tidak terdapat di dalam kodeks Abu Musa; sebab kalau tercantum di dalamnya, maka tentu tidak mudah baginya melupakan surat-surat yang ada di dalamnya terdapat kedua ayat tersebut.
Penelurusan yang dilakukan Jeffery terhadap varian bacaan Abu Musa hanya mengungkapkan suatu jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan nama besarnya. Ia hanya menemukan empat varian Abu Musa yang berbeda dari lectio vulgata. Yang pertama adalah dalam 2:124, dimana kata ibrahima – demikian bacaan resmi utsmani- telah dibaca ibrahama oleh Abu Musa, dan bacaan ini yang tidak mempengaruhi makna keseluruhan konteks ayat, bahkan terlihat lebih ringkas; atau penghilangan ungkapan walla mustakbiran kana lam yasma’ha dalam 31:7, yang tidak mempengaruhi makna keseluruhan ayat. Bahkan ketika suatu ayat dihilangkan seluruhnya, seperti dalam 94:6 – merupakan satu-satunya kasus dalam teks Ibnu Mas’ud – “inna ma’a al- ‘usri yusran” maka maknanya juga tidak terdistorsi, karena ayat ini merupakan pengulangan dari ayat sebelumnya (94:5), dan posisinya di sini barangkali hanya untuk memberi penekanan atau penegasan.
           

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar