SEJARAH PERBEDAAN DALAM MUSHAF
SAHABAT
(ABDULLAH BIN ABBAS DAN ABU MUSA
AL-ASY’ARI)
a.
MUSHAF
ABDULLAH BIN ABBAS
Dalam peta perkembangan tafsir Al-Qur’an di kalangan kaum Muslimin,
Ibnu Abbas yang bernama lengkap Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas menduduki
posisi sangat terkemuka. Hal ini terlihat dari figurasi dirinya sebagai tarjuman
Al-Quran (penafsir al-Qur’an terbaik), al-bahr (lautan, yakni
berilmu sedalam lautan), dan habr al-ummah (intelektual umat).
Kelahirannya diperkirakan pada masa ketika Bani Hasyim di blokade di al-Syi’b,
beberapa tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah.
Nama Ibnu Abbas mulai menonjol setelah Khalifah Utsman
mempercayakannya memimpin ibadah haji pada 35H, suatu tahun yang menentukan
dalam perjalanan politik Ustman. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, ia
ditunjuk sebagai gubernur Bashrah. Ibnu Abbas memperoleh kemasyhuran bukan
karena aktivitasnya di panggung politik, tetapi karena pengetahuan agamanya
yang luas, terutama dalam al-Qur’an. Dari kebesaran semacam ini, seseorang bisa
menduga bahwa kodeksnya akan sama terkenal dengan mushaf sahabat-sahabat Nabi
lainnya, seperti Ibnu Mas’ud atau Ubay. Tetapi kenyataannya sejarah menunjukkan
hal berbeda, mushaf Ibnu Abbas terlihat tidak pernah menjadi panutan masyarakat
tertentu, sekalipun sejumlah mushaf sekunder – seperti mushaf Ikrimah, Atha’, dan
Sa’id Ibnu Jubair – dipandang meneruskan tradisi teksnya. Ketenaran dalam
tafsir terjadi pada tahap belakangan
dalam karirnya, ketika ia berupaya memanfaatkan syair-syair pra-Islam untuk
menjelaskan makna al-Qur’an dalam tradisi teks Utsmani. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa kodeks al-Qur’annya dikumpulkan pada masa mudanya.
Salah satu karakteristik mushaf Ibnu Abbas adalah eksisnya dua
surat ekstra, yaitu surat al-kahl dan surat al-hafd, yang ada di
dalamnya, sebagaimana yang ada dalam mushaf Ubay dan Abu Musa. Dengan demikian,
jumlah keseluruhan surat yang ada di dalam mushaf Ibnu Abbas adalah sebanyak
116 surat. Sekalipun demikian, kedua surat ekstra ini tidak muncul dalam daftar
susunan surat mushafnya yang berbeda dari aransemen surat mushaf utsmani.
Mushaf Ibnu Abbas ini tidak berbeda jauh dengan mushaf Ibnu Mas’ud
dan mushaf Ubay yang terdiri dari riwayat-riwayat tentang bacaan-bacaan yang
memiliki corak dialek dan bacaan-bacaan yang memiliki corak tafsir.
· Bacaan-bacaan Ibnu Abbas yang Bercorak Dialek
1.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 65: “Jaharah”
dengan memfatahkan huruf “ha”.
2.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 108: “Kama silla”
dengan kasrah.
3.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 158: “An yaththaffa
bihima” dengan wazan “yafta’il”.
4.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 2: 265: “Kamitsli
jannnatin biribwatin” dengan mengkasrahkan huruf “ra”.
5.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 3: 81: “Ashri”
dengan memfatahkan “hamzah”.
6.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S 4: 1: “Tasaluna bihi”
dengan bacaan hamaz.
7.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 11: 42: “Wa nada nuhun
ibnah” dengan mensukunkan huruf “ha”. Dialek ini adalah dialek suku
Azd atau dialek suku Bani Kilab,Uqail, atau suku Thayyi.
8.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 31: 20: “Wa ashbagha
‘alaikum” dengan huruf “shad”.
9.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S. 40: 7: “Yahmiluna
al-‘Ursy” dengan mendhammahkan huruf “’ain”.
10.
Ibnu
Abbas dan sekelompok ahli baca al-Qur’an membaca Q.S 78: 18 dan 19: “Ash-Shuhf
al-ula shuhfu Ibrahim” dengan mensukunkan huruf “ha”. Ini adalah
dialek suku Tamim.
Itulah
beberapa riwayat tentang bacaan-bacaan Ibnu Abbas yang bercorak dialek.
Sebagian besar di antaranya sesuai dengan mushaf utsmani. Akan tetapi,
statusnya tetap dikategorikan sebagai bacaan yang syadz, karena status sanadnya
lemah. Riwayat pertama menunjukkan corak dialek yang bunyi huruf keluar dari
tenggorokan, yakni membaca “jaharah” dengan memfatahkan huruf “ha”. Riwayat
kedua berkaitan dengan corak dialek yang mengharmonikan bunyi huruf-huruf lain.
Riwayat ketiga merupakan corak dialek yang membaca dengan idgham/dengung. Dan
demikian seterusnya. Pembaca al-Qur’an tidak akan mengalami kesulitan untuk
mengetahui perbedaan dialek yang terdapat dalan riwayat-riwayat ini dengan
dialek bacaan masyarakat umum.
·
Riwayat-
riwayat tentang Bacaan- bacaan yang Bercorak Tafsir
1.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 2: 208: “Udkhulu fi-al-islami”.
2.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 2: 227: “Wa idza ‘adzamu -al- siraha”.
3.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 2: 23: “Liman arada –an yukammila – ar- radha’ah”.
4.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 2: 234: “Arba’ata asyhurin wa’asyra - layalia -.”
5.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 2: 238: “Wa ash-shalat al-wustha –wa shalat al-‘ashr -.”
Ini adalah pendiktean Hafsah binti Umar.
6.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 3: 159: “Wa syawirhum –fi ba’dhi al – amr -.”
7.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 4: 160: “Harramna ‘alaihim thayyibat – kanat - uhillat lahum” dengan menambahkan “kanat”.
8.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 11: 86: “-Taqiyyah - Allah khairun lakum” sebagai
ganti dari “baqiyyah”.
9.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 18: 80: “Waammaal- ghulamu – fakana kafiran – wa kana
abawahu mukminaini.”
10.
Ibnu
Abbas membaca Q.S. 19: 24: “Fanadaha – malaikun – min tahtiha”.
Diriwayatkan,
Ibnu Abbas berhenti ketika membaca ayat 5 dan 6 dari surat Thaha. Ia membaca
ayat 5: “Ar-rahman ‘ala al’arsy”, lalu membaca ayat 6 : “Istawa lahu
ma fi as-samawat”. Bacaan semacam ini telah menimbulkan polemik yang cukup
rumit dalam bidang akidah antara sunni dan muktazilah. Kedua kelompok ini
berselisih pendapat mengenai zat dan sifat-sifat Tuhan serta hubungan keduanya
dengan hakikat dan majaz.
Kita
juga menjumpai bacaan Ibnu Abbas yang sama dengan bacaan sejumlah ahli baca
al-Qur’an yang lain yang bersumber dari Nabi SAW. Terkadang sanad bacaan ini
muttashil alias tersambung, karena diriwayatkan oleh para perawi hadits dari
berbagai jalur sanad. Riwayat ini juga diriwayatkab dari Ibnu Mas’ud, Ikrimah,
‘Atha bin Abi Rabah, ‘Atha bin Yasar, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad,
Ali bin Hasan, dan Ibnu Abi ‘Ubaidah. Mereka membaca Q.S. 36: 38: “Wa asy-syams tajri la mustaqarra
laha”. Boleh jadi, bacaan ini sesuai dengan fakta-fakta ilmu astronomi,
yakni tentang peredaran matahari.
Yang
jelas, tambahan-tambahan atau perubahan-perubahan yang terdapat dalam
riwayat-riwayat bacaan Ibnu Abbas ini hanyalah penjelasan tentang maksud ayat.
Tambahan penjelasan ini telah menentukan maksud ayat – paling tidak - menurut
Ibnu Abbas.
Pada
dasarnya, mushaf Ibnu Abbas ini sama saja dengan mushaf utsmani yang
diriwayatkan secara mutawatir. Sedang riwayat-riwayat yang disebutkan di atas
hanyalah penafsiran dari Ibnu Abbas.
a.
MUSHAF
ABU MUSA AL-ASY’ARI
Abu
Musa al-Asy’ari berasal dari Yaman, tergolong ke dalam kelompok orang yang
masuk Islam pada masa awal. Dikabarkan bahwa ia juga turut berhijrah ke Abisnia
dan baru kembali pada masa penaklukan Khaibar. Setelah itu, ia diberi posisi
sebagai gubernur suatu distrik oleh Nabi. Pada tahun 17 hijriah, khalifah Umar
mengangkatnya sebagai gubernur di Bashrah. Pada masa pemerintahan Utsman ia
dicopot dari jabatan tersebut dan akhirnya diangkat kembali dalam jabatan yang
sama di kota Kufah. Ketika Utsman terbunuh, penduduk kota Kufah menentang Ali
bin Abi Thalib, yang memaksa Abu Musa melarikan diri dari kota itu. Ia juga
terlihat terlibat dalam Perang Shiffin pada 37H antara Ali dan Mu’awiyah,
sebagai arbitror untuk khalifah Ali, tetapi gagal memainkan perannya. Di
sinilah akhir aktivitas Abu Musa dalam percaturan politik. Dikabarkan ia
kembali ke Mekkah, lalu ke Kufah dan meninggal disana pada 42 atau 52H.
Abu Musa sejak awalnya telah tertarik
kepada pembacaan al-Qur’an. Dikabarkan bahwa suara bacaan al-Qur’annya sangat
terkenal di masa Nabi. Mushaf al-Qur’annya barangkali mulai di kumpulkan pada
masa Nabi, lalu diselesaikannya setelah itu. Ketika menjabat sebagai gubernur
Bashrah, mushafnya – biasa disebut dan dirujuk dengan nama Lubab al-Qutub – mulai diterima dan
akhirnya dijadikan sebagai teks otoritatif penduduk kota tersebut. Beberapa
pernyataan menarik dikemukakan dalam karya Ibnu Abi Dawud, Kitab al-Mashahif,
yang memperkuat dugaan tentang independensi mushaf Abu Musa.
Pernyataan
pertama, Yazid ibn Mu’awiyah mengisahkan bahwa pada suatu ketika di masa
al-Wahid ibn Uqbah ia berada di masjid dan bergabung dalam suatu halaqah, yang
juga dihadiri Hudzyafah ibn al-Yaman
(36H); kemudian terdengar seruan bahwa orang-orang yang mengikuti bacaan Abu
Musa agar berkumpul di gerbang Kindah, dan yang membaca menurut bacaan Ibnu
Mas’ud agar datang ke dekat rumah Abdullah. Ketika mendengar kedua kelompok itu
berbeda dalam pembacaan surat 2:196, Khudzayfah naik pitam dan bersumpah bahwa
seseorang harus membuat Khalifah Utsman mengambil tindakan terhadap hal
tersebut.
Yang
kedua – merupakan varian pernyataan pertama – adalah pernyataan Abu al-Sya’tsa’
tentang bagaimana Khudzayfah memprotes kedua bacaan di atas dan bermaksud
mendatangi khalifah Utsman untuk memintanya menyatukan bacaan-bacaan yang
berbeda itu, tetapi ia dimarahi oleh Abdullah hingga terdiam. Pernyataan
lainnya adalah yang diberitakan dari Abdullah al-A’la ibn al-Hakam al-Kilabi
bahwa ketika dia masuk rumah Abu Musa, datang seorang utusan ke Bashrah membawa
salinan mushaf standar utsmani yang harus mereka ikuti. Abu Musa kemudian
berkata bahwa bagian apapun dalam mushafnya yang bersifat tambahan bagi mushaf
utsmani agar jangan dihilangkan, tetapi apabila ada sesuatu dalam mushaf utsmani
yang tidak terdapat dalam mushafnya agar ditambahkan.
Dalam
perjalanan sebelumnya, mushaf Abu Musa terlihat tenggelam dan memudar
pengaruhnya dengan diterimanya mushaf utsmani sebagai mushaf otoritatif. Hal
ini bisa dilihat pada kenyataan bahwa hanya sejumlah kecil varian bacaannya
yang sampai ke tangan kita. Berbeda dari mushaf Ubay dan Ibny Mas’ud, tidak ada
riwayat yang menuturkan tentang susunan surat di dalam mushafnya, selain
riwayat bahwa dua surat ekstra yang ada dalam mushaf Ubay – yakni surat al-kahl
dan surat al-hafd – terdapat dalam mushafnya. Demikian pula, diriwayatkan bahwa
ayat sisipan dalam mushaf Ubay – yakni di antara ayat 24 dan 25 dalam surat 10,
seperti telah disinggung diatas – biasa dibaca Abu Musa dalam suatu surat yang
panjangnya menyerupai surat 9, tetapi yang diingatnya tinggal ayat itu, dan
juga surat lainnya yang semisal musabbihat, namun yang bisa ia ingat
dari surat tersebut hanyalah ayat yang mirip dengan 61:2. “Ayat-ayat” ini
diriwayatkan di dalam hadits-hadits sebagai bagian al-Qur’an yang terhapus; dan
hadits-hadits tentang penghapusan ini tidak dapat dipercayai sama sekali.
Tempaknya kedua ayat yang dipermasalahkan di sini tidak terdapat di dalam
kodeks Abu Musa; sebab kalau tercantum di dalamnya, maka tentu tidak mudah
baginya melupakan surat-surat yang ada di dalamnya terdapat kedua ayat
tersebut.
Penelurusan
yang dilakukan Jeffery terhadap varian bacaan Abu Musa hanya mengungkapkan
suatu jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan nama besarnya. Ia hanya
menemukan empat varian Abu Musa yang berbeda dari lectio vulgata. Yang pertama
adalah dalam 2:124, dimana kata ibrahima – demikian bacaan resmi
utsmani- telah dibaca ibrahama oleh Abu Musa, dan bacaan ini yang tidak
mempengaruhi makna keseluruhan konteks ayat, bahkan terlihat lebih ringkas;
atau penghilangan ungkapan walla mustakbiran kana lam yasma’ha dalam
31:7, yang tidak mempengaruhi makna keseluruhan ayat. Bahkan ketika suatu ayat
dihilangkan seluruhnya, seperti dalam 94:6 – merupakan satu-satunya kasus dalam
teks Ibnu Mas’ud – “inna ma’a al- ‘usri yusran” maka maknanya juga tidak
terdistorsi, karena ayat ini merupakan pengulangan dari ayat sebelumnya (94:5),
dan posisinya di sini barangkali hanya untuk memberi penekanan atau penegasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar